Jawa Pos Radar Ngawi – Ancaman kemarau panjang mulai membayangi. Namun, Pemkab Ngawi memastikan kondisi irigasi pertanian masih aman.
Klaim tersebut disampaikan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) di tengah prediksi kemarau ekstrem dari Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Tanaman Pangan DKPP Ngawi Hendro Budi Suryawan mengatakan, kondisi wilayah secara umum masih terkendali.
Meski begitu, tidak semua daerah berada dalam kondisi aman.
“Kalau menurut data dari Provinsi Jawa Timur, daerah yang rawan itu yang masuk jaringan irigasi Bendungan Colo di Jawa Tengah, seperti Mantingan dan Karanganyar,” ujarnya, kemarin (9/4).
Menurut Hendro, tiga bendungan utama di Ngawi menjadi penopang utama ketersediaan air.
Volume air saat ini masih relatif penuh karena hujan belum sepenuhnya berhenti.
“Saat ini kondisinya masih penuh karena hujan juga masih turun,” katanya.
Selain bendungan, sumur menjadi alternatif penting bagi petani.
Sejak 2015, terdapat sekitar 170 unit irigasi air tanah bantuan pemerintah.
Sementara itu, data 2019 mencatat lebih dari 22 ribu sumur dangkal milik petani tersebar di berbagai wilayah.
“Daerah yang dulunya tadah hujan sekarang sudah banyak sumur, jadi relatif lebih aman,” jelasnya.
Namun, penggunaan sumur memiliki tantangan tersendiri.
Sebagian besar menggunakan pompa submersible yang bergantung pada pasokan listrik.
“Selama listrik stabil, kemungkinan kebutuhan air tetap aman,” terangnya.
Kemarau panjang diperkirakan mulai terasa pada musim tanam ketiga.
Namun, DKPP masih menunggu rilis resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika untuk memastikan prediksi tersebut.
“Kemungkinan terjadi di musim tanam ketiga,” ujarnya.
Editor : Hengky Ristanto