Jawa Pos Radar Ngawi – Eskalasi konflik di Timur Tengah belum berdampak signifikan terhadap aktivitas ekspor-impor di Jawa Timur. Pasar utama ekspor Indonesia dinilai masih aman.
Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Jawa Timur II Muhamad Lukman menyebut, mayoritas ekspor industri nasional masih mengarah ke Amerika dan Eropa.
“Ekspor ke Amerika dan Eropa relatif aman,” ujarnya, kemarin (22/4).
Menurutnya, potensi dampak hanya dirasakan pelaku usaha yang menggunakan jalur pelayaran Selat Hormuz yang rawan terdampak konflik.
“Yang lewat Hormuz saja yang mungkin terdampak,” jelasnya.
Meski demikian, sektor energi menjadi perhatian utama. Terutama pasokan bahan bakar yang berpotensi memicu kenaikan biaya produksi dan distribusi.
“Yang berat itu bahan bakar,” tegasnya.
Di sisi lain, pemerintah terus mendorong ekspor melalui pemberian fasilitas kawasan berikat bagi industri. Salah satunya diberikan kepada PT Royal Regent Manufacturing.
Fasilitas tersebut berupa pembebasan bea masuk, pajak, dan pungutan lain atas bahan baku impor yang diolah untuk ekspor.
“Negara hadir mendukung industri,” katanya.
Menurut Lukman, kemudahan itu akan mendorong investasi sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.
Mulai penyerapan tenaga kerja hingga tumbuhnya usaha pendukung.
“Dampaknya luas bagi ekonomi daerah,” pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto