Jawa Pos Radar Madiun - Desa Girikerto, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, terus mengembangkan potensi wisata berbasis masyarakat melalui program Jajal Wae Trip.
Konsep ini menggabungkan wisata alam Sumber Koso dengan aktivitas soft adventure sekaligus pemberdayaan ekonomi warga.
Pemerintah Desa Girikerto bersama Pokdarwis Lawu Asri mendorong sektor UMKM agar lebih produktif dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam aktivitas wisata.
Anggota Pokdarwis Lawu Asri, Titik Nuryani, mengatakan pengembangan wisata ini menitikberatkan pada keterlibatan warga sebagai pelaku utama.
“Sudah satu tahun ini kami punya Jajal Wae Trip tujuannya bukan sekadar mendatangkan wisatawan, melainkan memberdayakan warga sebagai pelaku utama, bukan hanya penonton,” terangnya.
Dalam pelaksanaannya, seluruh fasilitas wisata dikelola oleh warga setempat.
Baca Juga: Waspada! Ini Tanda Daycare Bermasalah yang Harus Diketahui Orang Tua
Mulai dari penginapan berbasis homestay, warung makan, hingga jasa pemandu wisata.
Bahkan bahan makanan yang disajikan kepada wisatawan berasal dari petani lokal. Dengan demikian, perputaran ekonomi tetap berada di dalam desa.
“Dengan begitu keunikan tradisi dan kelestarian lingkungan menjadi ‘aset’ yang dijual, sehingga masyarakat termotivasi untuk menjaganya,” tambahnya.
Program Jajal Wae Trip tahun ini dijadwalkan berlangsung pada Mei mendatang.
Sekitar 100 wisatawan telah mendaftar untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Selama tiga hari dua malam, wisatawan akan tinggal di homestay milik warga dan terlibat langsung dalam aktivitas ekonomi desa.
“Mereka kami ajak untuk terlibat dalam kegiatan UMKM mulai dari produksi dan hasil produknya dinikmati sendiri untuk wisatawan,” katanya.
Beragam aktivitas disiapkan, mulai dari membuat makanan olahan, bertani, beternak, eksplorasi alam, hingga kegiatan api unggun.
Sebagai penutup, digelar Pasar Jajal Wae yang menjadi daya tarik utama.
Pasar Jajal Wae mengusung konsep pasar tradisional dengan suasana alami di lereng Gunung Lawu. Lokasinya berada di kawasan wisata Sumber Koso.
Pasar ini menyajikan berbagai jajanan tradisional yang mulai jarang ditemui di perkotaan, dengan bahan lokal dan penyajian yang masih sederhana.
“Keunikannya terletak pada penggunaan bahan-bahan lokal dan cara penyajian yang masih sangat tradisional, menciptakan kesan ‘kembali ke desa’,” ujarnya.
Baca Juga: Perbedaan Es Krim dan Gelato, Mana yang Lebih Sehat untuk Dikonsumsi?
Selain itu, penggunaan bahan plastik dihindari sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Pasar Jajal Wae digelar rutin setiap Minggu Pon pagi, dimulai sekitar pukul 07.00 hingga 09.30 WIB.
Lokasinya yang berada di jalur menuju kawasan wisata Jamus membuat pasar ini kerap menjadi tempat singgah wisatawan untuk sarapan atau menikmati suasana pagi.
Seluruh pedagang merupakan warga Desa Girikerto dan sekitarnya, sehingga dampak ekonomi langsung dirasakan masyarakat lokal.
Tak hanya kuliner, pasar ini juga kerap menghadirkan pertunjukan seni budaya serta pameran kerajinan tangan karya warga.
“Kami berharap ke depan pariwisata ini efektif untuk membangun ketahanan ekonomi karena pondasinya adalah kemandirian masyarakat,” pungkasnya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani