Jawa Pos Radar Ngawi – Rencana relokasi SDN 1 Sambirejo belum juga terealisasi.
Pemkab Ngawi mengaku masih kesulitan mendapatkan lahan pengganti untuk memindahkan sekolah tersebut.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ngawi kini masih mencari lokasi baru agar proses relokasi dapat segera dilakukan.
Kepala Dikbud Ngawi, Kabul Tunggul Winarno, mengatakan pengadaan lahan sebenarnya sudah dianggarkan tahun lalu.
Namun proses pembelian batal karena harga tanah tidak sesuai hasil penilaian appraisal independen.
“Harga yang diminta pemilik tanah tidak sesuai nilai appraisal,” ujarnya, kemarin (8/5).
Menurut Kabul, pemkab sebelumnya mengalokasikan anggaran sekitar Rp 2,1 miliar untuk pengadaan lahan relokasi SDN 1 Sambirejo.
Hasil appraisal menetapkan harga tanah sekitar Rp 800 ribu per meter persegi.
Namun, pemilik lahan meminta harga Rp 1 juta per meter persegi sehingga negosiasi tidak mencapai kesepakatan.
“Jadi negosiasi tidak mencapai kesepakatan,” katanya.
Pemkab berencana kembali mengusulkan anggaran pembelian tanah kepada tim anggaran pemerintah daerah (TAPD).
Relokasi sekolah dinilai mendesak lantaran bangunan SDN 1 Sambirejo berdiri di atas lahan milik Pondok Modern Darussalam Gontor yang ingin kembali menggunakan aset tersebut.
Kebutuhan lahan relokasi diperkirakan mencapai sekitar 2.700 meter persegi.
Saat ini, Dikbud masih berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk mencari lahan pengganti yang lokasinya tidak jauh dari sekolah lama.
“Kami masih fokus mencari tanah di wilayah Sambirejo,” ucap Kabul.
Meski beberapa ruang kelas mengalami kerusakan, kegiatan belajar mengajar disebut masih berjalan normal dengan memanfaatkan bangunan yang ada.
Perbaikan besar belum dilakukan karena sekolah direncanakan pindah lokasi.
“Kalau perbaikan ringan masih bisa menggunakan dana BOS,” pungkasnya. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto