Jawa Pos Radar Ngawi – Wajah perpustakaan desa di Ngawi mulai berubah.
Tak lagi sekadar tempat membaca dan meminjam buku, Perpustakaan Desa Cerdas Paras di Kecamatan Pangkur kini berkembang menjadi pusat pemberdayaan masyarakat berbasis literasi dan inklusi sosial.
Transformasi itu mengantarkan Perpustakaan Desa Cerdas Paras meraih juara lomba Perpustakaan Terbaik Kabupaten Ngawi.
“Perubahan cara pandang mengelola perpustakaan menjadi salah satu kunci keberhasilan,” ujar Kepala Perpusdes Cerdas Paras, Yuliana, kemarin (8/5).
Menurut Yuliana, literasi harus mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Karena itu, buku di perpustakaan tidak hanya dibaca, tetapi juga dipraktikkan melalui berbagai kegiatan pemberdayaan warga.
Melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), Perpusdes aktif menggelar pelatihan keterampilan sesuai kebutuhan masyarakat desa.
Mulai pelatihan menjahit, memasak, hingga pertanian.
“Kami berkolaborasi dengan banyak pihak di desa untuk menghadirkan pelatihan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” terangnya.
Tak hanya itu, perpustakaan juga melibatkan penyandang disabilitas dalam berbagai kegiatan produktif.
Hasil kerajinan warga difabel dipamerkan sekaligus dipasarkan di area perpustakaan.
Salah satu inovasi yang paling diminati ialah program COD Ilmu. Melalui program tersebut, petugas perpustakaan mengantarkan buku langsung ke rumah warga.
Program itu dinilai efektif meningkatkan minat baca anak sekaligus mempererat hubungan orang tua dan anak lewat kegiatan membaca bersama di rumah.
Perpusdes juga menghadirkan program Pobia Rindu atau Pojok Baca Ibu dan Anak Ramah dan Inovatif di Posyandu.
Sekitar 1.000 judul buku bantuan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia didistribusikan ke kegiatan posyandu rutin setiap bulan.
Menariknya lagi, Perpusdes Cerdas Paras turut membuka layanan konseling remaja bekerja sama dengan organisasi keagamaan setempat.
Layanan itu menjadi salah satu upaya menjawab keresahan orang tua terhadap pergaulan bebas di kalangan remaja.
“Inovasi terbaik itu mampu menjawab masalah nyata di desa. Kami ingin perpustakaan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegas Yuliana. (rio/cor)
Editor : Hengky Ristanto