Jawa Pos Radar Ngawi – Tingginya harga gabah kering panen (GKP) ternyata belum mampu membuat sebagian petani padi di Ngawi tersenyum lebar.
Petani justru mengeluhkan hasil panen yang menurun drastis akibat cuaca ekstrem selama musim tanam.
Salah satunya dirasakan Sumarni, petani asal Desa Jambangan, Kecamatan Paron.
“Harga sekarang Rp 7.025 per kilogram tapi hasil panen kali ini tidak maksimal,” katanya.
Harga tersebut bahkan melampaui harga eceran tertinggi (HET) gabah sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Namun kenaikan harga belum sebanding dengan penurunan produktivitas sawah.
Sumarni menanam padi di lahan seperempat hektare.
Dari lahan tersebut, dia hanya memperoleh sekitar lima karung gabah dengan berat masing-masing 50 kilogram atau sekitar 2,5 kuintal.
Padahal, dalam kondisi normal hasil panen bisa mencapai lebih dari satu ton.
Hasil panen yang minim itu juga masih harus dipotong biaya produksi.
Salah satunya biaya sewa mesin perontok yang mencapai Rp 600 ribu untuk seperempat hektare lahan.
“Yang penting masih bisa panen. Karena ada juga yang sampai puso akibat tanaman terserang penyakit,” ujarnya.
Menurut dia, tingginya curah hujan sejak awal masa tanam hingga menjelang panen membuat lahan terlalu lembap.
Kondisi itu menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak optimal.
Sementara itu, Kabid Tanaman Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Ngawi, M. Hasan Zunairi, membenarkan kondisi yang dialami petani di Desa Jambangan.
Menurut Hasan, intensitas hujan yang tinggi membuat tanaman kekurangan sinar matahari sehingga proses fotosintesis terganggu.
Selain itu, benih pada masa pembenihan banyak terserang penyakit hingga berkembang menjadi organisme pengganggu tanaman (OPT).
“Jadinya produktivitas padi tidak maksimal,” ucapnya. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto