Jawa Pos Radar Ngawi – Anggaran perbaikan bangunan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Ngawi tahun ini mengalami penyusutan.
Kondisi tersebut membuat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Ngawi harus menerapkan skala prioritas dalam penanganan kerusakan sekolah.
Kabid Pendidikan Dasar Dikbud Ngawi, Zainal Fanani, mengatakan total anggaran rehabilitasi sekolah tahun ini hanya sekitar Rp 2,5 miliar.
“Tahun lalu sekitar Rp 4 miliar,” ujarnya, kemarin (8/5).
Menurut dia, banyak bangunan sekolah di Ngawi mengalami kerusakan.
Namun, keterbatasan anggaran membuat pemerintah daerah hanya memprioritaskan bagian yang dianggap paling membahayakan keselamatan siswa dan guru.
“Karena membahayakan keselamatan siswa dan guru,” katanya.
Fokus penanganan diprioritaskan pada kerusakan atap bangunan sekolah yang rawan roboh maupun membahayakan aktivitas belajar mengajar.
Tahun ini, perbaikan sekolah dilakukan melalui skema paket konsolidasi.
Total terdapat 20 lembaga pendidikan yang masuk rencana rehabilitasi.
Rinciannya, sebanyak 18 SD dan dua SMP.
“Dua puluh sekolah itu akan dikonsolidasikan menjadi empat paket pekerjaan,” jelasnya.
Selain keterbatasan anggaran, Dikbud Ngawi juga harus menyesuaikan perencanaan proyek dengan kenaikan harga material bangunan, terutama besi dan bahan konstruksi lainnya.
Langkah tersebut dilakukan agar proses rehabilitasi tetap dapat berjalan sesuai kebutuhan sekolah meski biaya pembangunan meningkat.
“Kami antisipasi kenaikan harga material dalam proses perencanaan,” ucapnya. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto