Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

530 Siswa SMP di Ngawi Putus Sekolah, Dikbud Siapkan Langkah Khusus

Asep Syaeful • Rabu, 13 Mei 2026 | 08:15 WIB
Dikbud Ngawi menyoroti tingginya angka putus sekolah tingkat SMP yang mencapai 530 siswa menjelang tahun ajaran baru 2026/2027. ASEP SYAEFUL/JAWA POS RADAR NGAWI
Dikbud Ngawi menyoroti tingginya angka putus sekolah tingkat SMP yang mencapai 530 siswa menjelang tahun ajaran baru 2026/2027. ASEP SYAEFUL/JAWA POS RADAR NGAWI

Jawa Pos Radar Ngawi – Angka anak putus sekolah di Kabupaten Ngawi masih menjadi pekerjaan rumah serius menjelang tahun ajaran baru 2026/2027.

Kondisi paling memprihatinkan terjadi di jenjang SMP dengan jumlah siswa dropout mencapai 530 anak.

Dikbud Ngawi mulai menyiapkan sejumlah langkah untuk menekan kasus putus sekolah, terutama pada pendidikan menengah pertama.

Data Dikbud Ngawi hingga April 2026 mencatat, dari total sekitar 22.500 siswa SMP negeri dan swasta, sebanyak 530 siswa atau sekitar 2,3 persen tercatat tidak melanjutkan sekolah.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Dikbud Ngawi Zainal Fanani mengatakan, mayoritas kasus terjadi pada siswa kelas VIII.

“Jumlahnya 227 siswa atau sekitar 40 persen dari total kasus SMP,” ujarnya, kemarin.

Sementara itu, angka putus sekolah tingkat SD relatif lebih rendah.

Dari total 44.500 siswa di 502 sekolah negeri dan swasta, sekitar 200 anak atau 0,4 persen tercatat berhenti sekolah.

Meski persentasenya kecil, pemkab tetap menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius.

Menurut Zainal, faktor penyebab putus sekolah berbeda di tiap jenjang pendidikan.

Pada tingkat SD, persoalan lebih banyak dipengaruhi kondisi keluarga. Sedangkan di tingkat SMP mulai dipicu faktor lingkungan sosial dan pergaulan.

“Untuk siswa menengah ditambah pengaruh lingkungan sosial atau pergaulan,” katanya.

Dikbud juga mencatat wilayah dengan angka putus sekolah SD tertinggi berada di Kecamatan Pitu, Widodaren, dan Geneng.

Saat ini, pihaknya masih mendalami keterkaitan kondisi sosial wilayah dengan tingginya angka putus sekolah tersebut.

Menghadapi tahun ajaran baru, Dikbud Ngawi menyiapkan sejumlah langkah strategis.

Salah satunya mengaktifkan kembali peran guru bimbingan dan konseling (BK) di SMP sesuai program kementerian.

Selain itu, pemerintah desa di wilayah rawan putus sekolah bakal dilibatkan dalam pendampingan keluarga siswa.

“Misalnya bisa ditampung di sekolah nonformal seperti PKBM dan sebagainya,” pungkas Zainal. (sae/her)

Editor : Hengky Ristanto
#sekolah nonformal #putus sekolah #siswa smp #ngawi #Dikbud Ngawi