Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Sukses Turunkan Risiko Stunting, Program Gizi Dahsat Desa Beran Padukan Kelas Memasak hingga Bazar Ekonomi

Satrio Jati • Rabu, 13 Mei 2026 | 17:11 WIB
KOMPAK: Para peserta Gizi Dahsat berfoto bersama saat acara penutupan, Rabu (13/5). (SATRIO JATI/RADAR MADIUN)
KOMPAK: Para peserta Gizi Dahsat berfoto bersama saat acara penutupan, Rabu (13/5). (SATRIO JATI/RADAR MADIUN)

Jawa Pos Radar Madiun - Tawa riang anak balita dan aroma sedap masakan rumahan berpadu hangat di sudut Desa Beran, Kabupaten Ngawi.

Di balik kesederhanaan pemandangan tersebut, tersimpan sebuah perjuangan besar untuk memutus mata rantai masalah kesehatan yang kerap menghantui masa depan generasi bangsa, yakni stunting. Tidak dengan teori medis yang rumit, perlawanan ini justru dimulai dari kepulan asap dapur warga. 

Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, program Gizi Dahsat (Dapur Sehat Atasi Stunting) yang digagas oleh Pemerintah Desa Beran terbukti bukan sekadar wacana, melainkan sebuah gerakan nyata yang langsung menyentuh akar permasalahan gizi di tingkat keluarga.

Berjalan efektif sejak bulan April lalu, inisiatif strategis ini resmi ditutup dengan penuh keakraban pada Rabu (13/5). Keberhasilan program ini terletak pada pendekatan pemberdayaan masyarakat yang terarah.

Sasarannya dikunci secara spesifik, memprioritaskan keluarga yang memiliki anak balita (terutama usia di bawah dua tahun atau baduta), ibu hamil, ibu menyusui, hingga para calon pengantin (catin).

Relawan Program Gizi Dahsat, Handarini Putri, mengungkapkan kebanggaannya melihat partisipasi aktif warga dalam menekan angka gizi buruk. “Peserta sangat antusias mengikuti program ini kami berharap terus memberikan manfaat dan efetif dalam menanggulangi stuntinh di wilayah Beran pada khususnya,” ujar Handarini.

Baca Juga: Senyum Lebar Ko Hee-jin, Duet Maut Tiongkok-Serbia Siap Angkat Red Sparks dari Dasar Klasemen V-League

EDUKASI: Peserta mengikuti edukasi gizi yang disampaikan oleh petugas. (SATRIO JATI/RADAR MADIUN)
EDUKASI: Peserta mengikuti edukasi gizi yang disampaikan oleh petugas. (SATRIO JATI/RADAR MADIUN)

Guna menarik minat warga, para relawan tidak sekadar memberikan penyuluhan satu arah. Berbagai kegiatan inovatif dan interaktif digelar untuk memastikan asupan gizi keluarga benar-benar terpenuhi.

Pertama, kelas memasak. Peserta diajak mempraktikkan langsung pembuatan menu "Isi Piringku". Menariknya, bahan yang digunakan adalah pangan lokal yang murah dan melimpah seperti daun kelor, ikan sungai, hingga telur. Bahan tersebut diolah secara kreatif agar ampuh membangkitkan nafsu makan anak.

Kedua, konseling kelompok. Diskusi mendalam mengenai pola asuh yang tepat, pentingnya menjaga kebersihan lingkungan (sanitasi), serta kampanye pemberian ASI eksklusif.

Ketiga, pemanfaatan pekarangan. Warga diedukasi untuk membuat "Warung Hidup" dengan menanam sayuran atau beternak unggas dan ikan di halaman rumah sebagai lumbung protein mandiri.

Untuk memantau efektivitas program, pemantauan fisik balita dilakukan secara berkala. “Diharapkan dengan adanya penambahan gizi berat badanya bertambah untuk itu setiap hari dilakukan penimbangan,” katanya.

Relawan juga turun langsung mendistribusikan makanan siap santap. “Kami juga melaksanakan pemberian makanan bergizi yang telah dimasak di Dapur Sehat kepada sasaran yang membutuhkan,” bebernya.

Selain urusan perut, Gizi Dahsat menjelma menjadi ajang perputaran ekonomi dengan digelarnya bazar. Handarini menyebut acara ini sangat efektif untuk mempromosikan pola makan sehat sekaligus menggerakkan ekonomi lokal para ibu.

“Kami juga membagikan hadiah bingkisan untuk balita seperti biskuit, susu, tumbler dan diberikan rapor untuk tahu perkembangannya,” imbuhnya.

Kesuksesan aksi nyata para relawan ini mustahil terwujud tanpa sokongan penuh dari aparatur desa. Kepala Desa Beran, Agus Supriyadi, menilai program tersebut telah terbukti mendongkrak pemahaman keluarga berisiko stunting mengenai penyediaan makanan bergizi berbasis bahan lokal yang ramah di kantong.

“Sehingga ini sekaligus melatih kader dan orang tua agar mampu menyusun menu sehat secara mandiri,” katanya.

Agus menegaskan bahwa Pemerintah Desa memegang peranan krusial sebagai ujung tombak pengentasan stunting. Kedekatan mereka dengan basis data keluarga serta kewenangan mengelola anggaran lokal menjadi senjata utama untuk menyukseskan program kesehatan masyarakat.

“Kami juga memastikan tersedianya biaya untuk pemberian makanan tambahan (PMT), operasional Posyandu, dan insentif bagi kader pembangunan manusia (KPM),” tambahnya.

Pihaknya berharap, melalui koordinasi yang solid antara kepala desa, perangkat desa, serta tokoh masyarakat, intervensi gizi ke depannya dapat dilakukan secara lebih personal, berkelanjutan, dan mengetuk langsung pintu-pintu rumah warga yang membutuhkan. (*)

Editor : Mizan Ahsani
#beran #anak #gizi #ngawi #posyandu