Jawa Pos Radar Madiun - Tradisi Bersih Desa atau Nyadran di Desa Watualang, Kecamatan Ngawi, kembali digelar meriah, Jumat (15/5).
Tak sekadar ritual budaya tahunan, kegiatan tersebut juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat lokal.
Ratusan warga tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang dipusatkan di rumah Kepala Desa Watualang sebelum dilanjutkan menuju makam leluhur desa.
“Pertama dilakukan kirab gunungan hasil bumi yang diarak warga menuju makam Gupitosari, lalu warga membawa ambeng untuk makan bersama, doa bersama, dan oyok-oyokan atau rebutan gunungan,” terang Kepala Desa Watualang, Anton Ponijan.
Tradisi Bersih Desa Watualang tahun ini dilaksanakan di tiga dusun sekaligus, yakni Dusun Krajan Selatan, Krajan Utara, dan Ngrambang.
Usai prosesi doa dan nyekar di makam leluhur, warga disuguhi berbagai hiburan rakyat yang berlangsung sejak siang hingga malam hari.
Mulai dari pagelaran jaranan, caplokan, reog, hingga tari gambyong menjadi hiburan yang menarik perhatian masyarakat.
“Kami berharap tradisi ini selain sebagai wujud syukur juga menjadi hiburan warga dan mempererat kebersamaan,” ungkap Anton.
Baca Juga: Di Balik Dapur yang Tetap Ngebul, Mekaar Dampingi Ibu-Ibu Pelaku Usaha Kecil di Pacitan
Menurut Anton, tradisi nyadran memiliki efek pengganda atau multiplier effect terhadap ekonomi lokal.
Momentum tersebut dimanfaatkan pedagang makanan dan minuman untuk meningkatkan omzet penjualan.
Selain itu, masyarakat juga cenderung meningkatkan belanja kebutuhan kenduri maupun acara keluarga selama tradisi berlangsung.
“Bisa menambah omzet pengusaha atau pedagang makanan dan minuman di sekitar lokasi acara, dan masyarakat lokal biasanya berbelanja lebih banyak untuk kebutuhan kenduri,” terangnya.
Tak hanya pedagang, pelaksanaan Bersih Desa Watualang juga memberi dampak ekonomi bagi pelaku seni dan jasa hiburan.
Pertunjukan jaranan, gambyong, hingga hiburan rakyat melibatkan banyak seniman lokal.
Selain itu, penyedia jasa sound system, penyewaan tenda, panggung, dokumentasi foto dan video juga ikut mendapatkan manfaat ekonomi dari acara tersebut.
“Bisa memberikan pendapatan bagi kelompok kesenian lokal, pengusaha penyewaan tenda, sistem suara, panggung, hingga jasa dokumentasi foto dan video,” imbuhnya.
Anton menilai tradisi Bersih Desa Watualang juga menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas budaya desa di tengah arus modernisasi.
Dengan kemasan acara yang menarik, Watualang ingin dikenal sebagai desa yang tetap menjaga adat dan tradisi lokal.
Menurutnya, hal tersebut penting untuk mendukung pengembangan potensi wisata desa ke depan.
“Nyadran juga sebagai festival rakyat yang memutar roda ekonomi dari warga, oleh warga, dan untuk warga,” pungkasnya. (rio/naz/*)
Editor : Mizan Ahsani