Jawa Pos Radar Ngawi – Pembangunan instalasi bedah sentral (IBS) RSUD dr Soeroto kembali dilanjutkan tahun ini setelah sempat terhenti dua tahun.
Namun, anggaran Rp 5 miliar yang disiapkan pemkab belum menyentuh ruang operasi utama karena biaya pembangunan dinilai terlalu mahal.
Pemkab hanya melanjutkan pembangunan ruang penunjang seperti ruang pasien sebelum operasi, ruang pemulihan pascaoperasi, ruang dokter, ruang perawat, hingga ruang alat medis.
Pelaksana Tugas Direktur RSUD dr Soeroto Ngawi Agus Priyambodo mengatakan, pembangunan lanjutan IBS tahun ini menggunakan dana alokasi umum (DAU).
Saat ini proyek masih tahap detail engineering design (DED) dan proses lelang.
“Hanya ruangan-ruangan penunjang, seperti ruang pasien sebelum operasi, ruang pemulihan setelah operasi, ruang perawat, ruang dokter dan ruang alat medis,” katanya kemarin (18/5).
Menurut Agus, ruang operasi utama atau operating room belum dibangun karena membutuhkan anggaran besar dan spesifikasi khusus.
“Jadi memang pembangunan tahun ini minus ruang operasi, karena mahal dan juga harus memenuhi standar khusus,” ungkapnya.
Pembangunan IBS dilakukan bertahap sejak 2021.
Tahap pertama menelan anggaran Rp 12,6 miliar untuk pembangunan fisik gedung.
Kemudian tahap kedua pada 2023 kembali mendapat suntikan Rp 9,5 miliar guna menyelesaikan struktur bangunan tiga lantai tersebut.
Meski demikian, hingga kini IBS belum dapat difungsikan sebagai pusat layanan operasi.
Penyebabnya, modular operating theatre (MOT) beserta peralatan medis penunjang belum tersedia.
Sebagian ruangan sementara dimanfaatkan sebagai ruang rawat inap.
“Saat ini sudah dimanfaatkan untuk ruang rawat inap,” terangnya.
Agus menyebut keberadaan IBS mendesak karena kapasitas kamar operasi RSUD dr Soeroto saat ini tidak sebanding dengan peningkatan layanan spesialis dan bedah.
Rumah sakit hanya memiliki empat kamar operasi aktif dengan dukungan 38 dokter spesialis.
“Layanan spesialis lebih dari 10 dengan 38 dokter spesialis, empat kamar operasi dirasa sangat kurang. Jadwal operasi harus bergantian,” paparnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto