Desa Brangol Ngawi Lestarikan Tradisi Nyadran, Dorong Pemuda Jadi Humas Budaya di Media Sosial

Satrio Jati • Dipublikasikan Rabu, 20 Mei 2026 | 09:01 WIB
NYADRAN: Warga Desa Brangol bersama jajaran pemdes setempat menggelar doa bersama saat peringatan bersih desa pada 13 April (Senin Kliwon) di Punden Brangol.
NYADRAN: Warga Desa Brangol bersama jajaran pemdes setempat menggelar doa bersama saat peringatan bersih desa pada 13 April (Senin Kliwon) di Punden Brangol.

Jawa Pos Radar Madiun - Pemerintah Desa (Pemdes) bersama masyarakat Desa Brangol, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi kembali menggelar tradisi tahunan Bersih Desa atau Nyadran pada Senin Kliwon (13/4). 

Ritual adat ini dipertahankan sebagai wujud kearifan lokal sekaligus bentuk rasa syukur atas melimpahnya hasil panen, keselamatan, dan ketenteraman desa.

Kepala Desa Brangol Harun Alrasyid menjelaskan bahwa agenda rutin ini bukan sekadar ritual seremonial. Nyadran menjadi instrumen penting untuk memperkuat tali silaturahmi, memupuk semangat gotong royong, serta menyatukan seluruh elemen masyarakat mulai dari pemdes, tokoh agama, tokoh adat, hingga generasi muda.

Prosesi Nyadran diawali dengan aksi kerja bakti massal membersihkan makam leluhur dan punden desa.

Kegiatan bersih-bersih ini berpusat di tiga titik sakral desa, yaitu Sendang Puntuk, Punden Brangol, dan pemakaman umum setempat.

Baca Juga: Whatsapp Web Error, Pengguna Justru Diarahkan ke Halaman Login Facebook

Setelah area punden bersih, warga berkumpul dengan membawa berkat atau ambengan (wadah berisi makanan dan lauk-pauk).

Sesepuh atau tokoh adat desa kemudian memimpin doa keselamatan bersama.

Acara diakhiri dengan pembagian dan tukar-menukar makanan antarwarga.

"Pembagian berkat ini menegaskan kembali konsep berbagi makanan dan gotong royong, yang menjadi antitesis dari gaya hidup konsumtif masyarakat modern," ujar Harun Alrasyid.

BERBAGI: Warga membagikan makanan usai doa bersama di lokasi Nyadran.
BERBAGI: Warga membagikan makanan usai doa bersama di lokasi Nyadran.

Selain merawat nilai luhur nenek moyang, kegiatan kenduri ini terbukti memberikan dampak ekonomi instan bagi pelaku usaha mikro di desa.

Perputaran uang di warung-warung klontong dan pasar tradisional setempat meningkat signifikan karena tingginya belanja kebutuhan bahan makanan untuk keperluan selamatan warga.

Menghadapi gempuran era modernisasi yang membawa arus digitalisasi dan pergeseran pola pikir, Harun menilai tradisi Nyadran dituntut untuk adaptif.

Keterlibatan generasi muda menjadi faktor penentu agar warisan budaya agraris ini tidak punah atau sekadar dianggap sebagai formalitas belaka.

Baca Juga: Xiaomi Luncurkan SUV Listrik YU7 GT Besok: Ditenagai Mesin 990 HP, Mampu Melesat 300 Km/Jam

Saat ini, pola partisipasi remaja desa dan pemuda Karang Taruna di Desa Brangol sudah mulai bergeser ke arah manajemen modern berbasis kreativitas.

Pemdes mendorong anak-anak muda yang melek teknologi untuk mengambil peran strategis sebagai humas budaya.

Mereka bertugas mendokumentasikan setiap prosesi sakral Nyadran dalam bentuk foto estetik maupun video pendek kreatif.

Konten digital tersebut kemudian diamplifikasi melalui platform media sosial populer seperti Instagram, TikTok, dan YouTube.

“Publikasi kreatif di media sosial ini membuat tradisi desa terlihat keren dan tetap hidup. Selain mengedukasi generasi muda lainnya, konten-konten ini juga terbukti memicu rasa rindu para perantau asal Ngawi untuk pulang ke kampung halaman,” pungkas Harun. (rio/naz/*)

Editor : Mizan Ahsani
brangol tradisi ngawi nyadran bersih desa