Jawa Pos Radar Ngawi – Dinas Kesehatan (Dinkes) Ngawi meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan tikus.
Dua penyakit yang menjadi perhatian yakni leptospirosis dan hantavirus.
Meski sama-sama berkaitan dengan tikus, keduanya memiliki penyebab dan gejala berbeda.
Hingga Mei 2026, Dinkes Ngawi mencatat enam kasus leptospirosis. Sementara kasus hantavirus masih nihil.
Kepala Dinkes Ngawi Heri Nur Fahrudin menjelaskan, leptospirosis disebabkan bakteri leptospira yang berasal dari urine atau kotoran tikus.
Penularannya terjadi ketika bakteri masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka.
“Biasanya masuk lewat luka, misalnya luka di kaki yang terkena kotoran tikus,” ujarnya, Kamis (21/5).
Menurut Heri, mayoritas kasus leptospirosis ditemukan di wilayah perbatasan Ngawi-Sragen.
Sebagian besar penderita berprofesi sebagai petani yang setiap hari beraktivitas di area persawahan.
Kondisi tersebut membuat petani lebih rentan terpapar bakteri leptospira karena sering mengalami luka di bagian kaki dan kontak langsung dengan lingkungan yang banyak tikus.
“Petani paling rentan karena sering kontak dengan sawah yang banyak tikusnya,” jelasnya.
Dinkes mencatat seluruh pasien leptospirosis yang ditemukan sejak Januari hingga Mei 2026 berhasil sembuh setelah menjalani penanganan medis.
“Alhamdulillah semuanya tertangani dengan baik,” katanya.
Heri memaparkan, gejala leptospirosis meliputi demam tinggi, menggigil, sakit kepala berat, tubuh lemas, hingga nyeri pada betis dan paha.
Bahkan, pada kondisi tertentu penderita bisa kesulitan berjalan.
“Yang paling khas nyeri di betis dan paha. Kalau parah bisa menyebabkan gagal ginjal,” terangnya.
Selain leptospirosis, masyarakat juga diminta mewaspadai hantavirus.
Penyakit ini ditularkan melalui udara yang tercemar partikel bulu atau kotoran tikus yang terhirup manusia.
Berbeda dengan leptospirosis yang menyerang melalui luka, hantavirus lebih banyak menyerang saluran pernapasan.
Gejalanya antara lain batuk, pilek, nyeri saat menelan, demam, hingga sesak napas. Pada kondisi berat, infeksi hantavirus dapat menyerang paru-paru.
Meski demikian, Heri memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus hantavirus di Kabupaten Ngawi.
“Hingga kini belum ada temuan kasus hantavirus di Ngawi,” klaimnya. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto