Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Tingkatkan Pendapatan Desa, BUMDes Ringinanom Ngawi Sukses Kelola Penggemukan Domba dan Pupuk Organik

Satrio Jati • Jumat, 22 Mei 2026 | 09:12 WIB
CEK BERKALA: Petugas BUMDes Anom Jaya Mandiri Desa Ringinanom, Kecamatan Karangjati, memeriksa dan memberi pakan domba.
CEK BERKALA: Petugas BUMDes Anom Jaya Mandiri Desa Ringinanom, Kecamatan Karangjati, memeriksa dan memberi pakan domba.

Jawa Pos Radar Madiun - Upaya mengerek Pendapatan Asli Desa (PADes) sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat lokal terus digenjot oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Anom Jaya Mandiri, Desa Ringinanom, Kecamatan Karangjati.

Salah satu terobosan strategis yang kini tengah dikembangkan adalah unit usaha penggemukan domba berbasis kelestarian lingkungan.

Agar program ini tidak sekadar menjadi proyek musiman, pihak pengelola menyadari pentingnya pendekatan bisnis modern yang terukur dan berkelanjutan.

“Karenanya BUMDes telah menentukan pola operasional yang paling sesuai dengan kapasitas modal dan SDM yang ada,” ujar Ketua BUMDes Anom Jaya Mandiri, Pardi.

Domba dipilih sebagai komoditas utama karena memiliki siklus perputaran modal yang relatif cepat, yakni sekitar 3 hingga 4 bulan per periode penggemukan. Selain itu, permintaan pasar dinilai sangat stabil, terutama untuk menyuplai kebutuhan sate, akikah, hingga hewan kurban saat Hari Raya Iduladha.

Alasan lain pemilihan domba dibandingkan kambing adalah karakternya yang tidak pemilih soal makanan, sehingga memudahkan proses pemeliharaan.

Dari modal awal pengadaan sebanyak 53 ekor domba (termasuk 8 ekor betina untuk indukan), unit usaha ini mulai menunjukkan hasil positif.

“Selama ini sudah terjual 29 ekor dan beberapa yang lain sudah dipesan,” imbuhnya.

Kunci keberhasilan penggemukan hewan ternak sangat bergantung pada efisiensi biaya pakan. Menyiasati hal tersebut, BUMDes Anom Jaya Mandiri membangun sistem Bank Pakan Mandiri dengan memanfaatkan lahan kerja sama milik warga.

Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Pacitan Serahkan Santunan JKM Rp 42 Juta untuk Ahli Waris Relawan SPPG

PUPUK KANDANG: Petugas BUMDes menunjukkan sejumlah hasil olahan kotoran domba yang telah dikemas dalam karung dan siap dipasarkan sebagai pupuk organik.
PUPUK KANDANG: Petugas BUMDes menunjukkan sejumlah hasil olahan kotoran domba yang telah dikemas dalam karung dan siap dipasarkan sebagai pupuk organik.

Baca Juga: Satu Tahun Kepemimpinan Nanik-Suyatni, Program Rumah DataKu Raih Penghargaan Tingkat Jatim

Langkah ini memangkas biaya operasional secara drastis sekaligus menjamin ketersediaan pakan hijau sepanjang tahun.

“Kami tanami rumput Pakchong karena memiliki produktivitas biomassa yang jauh lebih tinggi daripada rumput gajah biasa. Cocok ditanam di lahan yang datar dan mendapat sinar matahari penuh,” jelas Pardi.

Selain rumput segar, pemenuhan nutrisi domba juga ditopang oleh inovasi pemanfaatan limbah hasil panen warga sekitar.

“Khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pakan kami mengolah limbah pertanian lokal seperti jerami padi, pohon dan jenjet jagung menjadi pakan berkualitas melalui pengolahan,” terangnya.

Tidak hanya berfokus pada penggemukan daging, BUMDes ini juga menerapkan sistem peternakan tanpa limbah (zero waste farming). Kotoran padat (feses) dan urine domba disulap menjadi produk bernilai ekonomi tinggi untuk dijual kembali kepada petani lokal atau digunakan sendiri di lahan pakan.

Secara teknis, kandang domba didesain menggunakan lantai panggung miring yang dilengkapi talang air di bagian bawah.

Desain ini memungkinkan urine yang kaya akan unsur nitrogen mengalir otomatis ke bak penampungan dan terpisah dari kotoran padat.

Sementara itu, untuk kotoran padat, Pardi menegaskan pentingnya proses dekomposisi sebelum dipasarkan.

“Kotoran domba tidak boleh langsung diaplikasikan ke tanaman karena bisa menghasilkan panas saat terurai alami, yang bisa membakar akar tanaman, harus melalui proses fermentasi (dekomposisi) dulu,” terangnya.

Kini, limbah yang dulunya dibuang telah bertransformasi menjadi produk pupuk organik yang menyumbang pendapatan tambahan bagi BUMDes, dengan rincian harga jual pupuk kandang belum digiling Rp 10 ribu per karung dan pupuk kandang siap pakai Rp 30 ribu per karung.

“Sementara ini kami juga menyediakan pupuk yang sudah siap pakai dengan harga Rp.30 ribu per sag kalau yang belum digiling Rp.10 ribu per sag,” pungkas Pardi. (rio/naz/*)

Editor : Mizan Ahsani
#bumdes #ngawi #desa #domba #ternak