Jawa Pos Radar Ngawi – Angka putus sekolah di Kabupaten Ngawi masih tinggi.
Hingga April 2026, sedikitnya 730 siswa SD dan SMP tercatat tidak melanjutkan pendidikan.
Pemkab Ngawi kini mulai membongkar penyebab di balik tingginya angka tersebut.
Pemerintah menilai penanganan tidak cukup hanya berbasis data jumlah kasus.
Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono mengatakan penyebab anak putus sekolah harus dipetakan secara detail agar solusi yang diberikan tepat sasaran.
“Apakah karena faktor ekonomi, faktor sosial, atau bermasalah dengan hukum, ini perlu kami kaji lebih dalam,” ujarnya, Jumat (22/5).
Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Ngawi mencatat sebanyak 200 siswa SD dan 530 siswa SMP mengalami putus sekolah.
Di tingkat SD, angka putus sekolah mencapai sekitar 0,4 persen dari total 44.500 siswa di 502 sekolah negeri dan swasta.
Sedangkan di tingkat SMP mencapai 2,3 persen dari total 22.500 siswa pada 82 sekolah.
“Penyebabnya harus dipetakan secara detail agar penanganan tepat sasaran,” tegas Ony.
Menurut dia, jika faktor ekonomi menjadi penyebab utama, pemerintah sebenarnya telah memiliki berbagai bantuan pendidikan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP).
Namun, Ony mengakui masih banyak faktor lain yang membuat anak berhenti sekolah.
Mulai tekanan keluarga hingga anak diminta membantu pekerjaan orang tua.
“Misalnya ada anak yang diminta orang tuanya membantu di sawah, membantu bekerja, dan lain sebagainya,” katanya.
Pemkab kini meminta Dinas Pendidikan melakukan pendataan lebih rinci terhadap anak-anak putus sekolah.
Tidak hanya mencatat jumlah, tetapi juga latar belakang penyebabnya.
“Harus ada alasannya apa. Apakah karena ekonomi, masalah keluarga, atau faktor lainnya,” ujarnya.
Ony menambahkan, salah satu solusi yang disiapkan pemerintah yakni program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah pusat.
Program tersebut diharapkan mampu mengakomodasi anak-anak putus sekolah agar kembali mendapat akses pendidikan.
“Salah satu niat dan tujuan Sekolah Rakyat itu nanti juga untuk mengakomodasi anak-anak putus sekolah,” tandasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto