Jawa Pos Radar Ngawi – Dugaan kasus pencabulan santriwati oleh pengasuh Pondok Pesantren Ngawitan Kanjeng Sunan Kalijogo, Desa Walikukun, Kecamatan Widodaren, terus mendapat pendampingan serius.
Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Ngawi mulai melakukan asesmen psikologis terhadap para korban.
Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DPPPA KB Ngawi Endang Setyowati mengatakan pendampingan awal telah dilakukan sejak korban melapor ke polisi pada Jumat (22/5).
“Kami sudah melakukan pendampingan awal dan asesmen lanjutan akan dilakukan untuk mengetahui kondisi psikologis korban,” ujarnya kemarin (24/5).
Menurut Endang, para korban diduga mengalami trauma cukup berat akibat adanya relasi kuasa yang digunakan terduga pelaku berinisial DAN.
Korban disebut merasa takut dan tidak berdaya karena pelaku merupakan pimpinan pondok pesantren.
“Ada relasi kuasa yang membuat korban tidak berani menolak,” katanya.
Karena itu, asesmen psikologis dinilai penting untuk menentukan langkah trauma healing maupun pemulihan yang tepat bagi korban.
Berdasarkan data sementara, korban berasal dari sejumlah daerah seperti Ngawi, Blora, hingga Ciamis.
Saat ini para korban ditempatkan di lokasi aman untuk menjamin keamanan dan kenyamanan selama proses pendampingan berlangsung.
“Korban berada di safe house bersama tim pendamping,” terang Endang.
Hingga kini, DPPPA KB baru menerima data resmi tiga korban.
Namun pihaknya memastikan siap memberikan pendampingan terhadap seluruh korban yang nantinya teridentifikasi dalam kasus tersebut.
“Kami terus berkoordinasi dengan Polres Ngawi terkait perkembangan data korban,” tandasnya. (sae/her)
Editor : Hengky Ristanto