Jawa Pos Radar Madiun - Bulan Juni senantiasa menjadi momen yang istimewa bagi masyarakat Desa Campurasri, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi.
Sepanjang bulan ini, warga setempat menggelar serangkaian upacara bersih desa atau yang akrab disebut tradisi Nyadran.
Rangkaian kegiatan ini diawali dari beberapa dusun dengan melakukan agenda bersih-bersih makam serta menggelar kenduri di punden desa setempat.
Puncak kebersamaan masyarakat tersebut terlihat pada Senin (25/5), saat dilaksanakannya kenduri agung sekaligus pagelaran seni tradisional di Punden Prabu, Dusun Dungwaluh.
Menariknya, pertunjukan seni ini dilangsungkan tanpa henti, mulai dari siang, berlanjut ke malam hari, hingga menjelang dini hari.
Kepala Desa Campurasri, Sunarto, menjelaskan bahwa pemilihan kesenian yang ditampilkan memiliki akar sejarah yang kuat bagi masyarakat setempat.
“Sesuai dengan tradisi yang sudah turun-temurun pagelaran wayang yang kami laksanakan bukan wayang kulit tapi wayang Tengul,” ujar Sunarto.
Baca Juga: Awas Bahaya Ganda! Mengisap Rokok dan Vape Bersamaan Tingkatkan Risiko Kanker Paru 4 Kali Lipat
Sunarto mengungkapkan bahwa keharusan mementaskan Wayang Tengul merupakan bentuk kepatuhan dan penghormatan terhadap adat istiadat warisan leluhur.
Keteguhan dalam menjaga tradisi ini akhirnya membuat kesenian tersebut kini diakui sebagai salah satu ikon budaya kebanggaan Desa Campurasri.
“Selain tujuan melestarikan budaya juga sebagai penghormatan untuk para pendahulu dan pendiri Desa,” katanya menekankan tujuan utama dari acara tersebut.
Lebih jauh, Sunarto menilai bahwa perpaduan antara tradisi bersih desa dengan pagelaran Wayang Tengul merupakan wujud kearifan lokal Jawa yang sangat luhur.
Kombinasi kedua elemen tersebut tidak bisa dipandang sekadar sebagai tontonan atau hiburan semata, melainkan sebuah upacara sakral yang sarat akan makna spiritual, sosial, dan filosofis.
“Kami berharap generasi penerus bisa menjunjung nilai budaya dan tak meninggalkannya,” jelas Sunarto penuh harap.
Dalam konteks spiritual bersih desa, pagelaran wayang ini juga berfungsi sebagai sarana ruwatan, yakni sebuah ritual pembersihan energi negatif.
Melalui ritual ini, desa tidak hanya dibersihkan secara fisik lingkungannya, tetapi juga dibersihkan secara spiritual dengan harapan seluruh warga terhindar dari malapetaka, wabah penyakit, maupun konflik sosial.
“Malalui cara ini menjadi sarana kami semua untuk membina kebersamaan dan gotong royong dimana ini demi kepentingan bersama baik jajaran Pemdes dan masyarakat,” urainya.
Di balik kentalnya nuansa sakral dan budaya, pertunjukan Wayang Tengul dan tari Gambyong dalam bersih desa ini ternyata menjadi motor penggerak ekonomi yang sangat signifikan bagi masyarakat setempat.
Acara kebudayaan ini membuka panggung kerja yang luas bagi para seniman tradisi yang selama ini menggantungkan hidupnya pada upaya pelestarian budaya.
“Khususnya bagi dalang, kelompok karawitan, sinden, pengusaha multi media lokal ekonominya turut terdongkrak,” sebut Kepala Desa Campurasri tersebut.
Baca Juga: Babak Baru Kasus Korupsi Sugiri Sancoko Cs, KPK Panggil Kadinkes dan 12 Saksi untuk Ungkap TPPU
Dari kacamata ekonomi mikro, rentetan acara komunal ini sukses bertransformasi menjadi sebuah ekosistem pasar kaget yang saling menguntungkan.
Hadirnya pertunjukan budaya yang ikonik terbukti selalu berhasil menyedot animo massa dalam jumlah yang sangat besar dari berbagai wilayah sekitar.
“Pedagang makanan, minuman, mainan anak-anak, dan jajanan pasar mengalami lonjakan omset yang drastis dibandingkan hari biasa,” imbuhnya merinci dampak positif yang dirasakan langsung oleh warganya.
Sunarto menegaskan, alokasi dana untuk pertunjukan budaya dalam kegiatan bersih desa sejatinya adalah bentuk investasi sosial dan ekonomi yang cerdas.
Biaya yang dikeluarkan oleh pihak desa tidak hilang begitu saja, melainkan berputar kembali secara masif di dalam ekosistem ekonomi warga, menciptakan ketahanan pangan, dan memperkuat kemandirian UMKM lokal.
Melihat besarnya potensi tersebut, Pemdes Campurasri memiliki visi jangka panjang yang cukup ambisius untuk kemajuan wilayahnya.
“Kami ingin bersih desa Campurasri yang menampilkan pertunjukan budaya ikonik seperti ini bisa bertransformasi menjadi agenda wisata tahunan yang semakin baik,” pungkasnya. (rio/*/naz)
Editor : Mizan Ahsani