Harga Tembakau Menggiurkan, Petani Ngawi Bidik Untung Besar Tahun Ini

Asep Syaeful • Dipublikasikan Kamis, 28 Mei 2026 | 18:00 WIB
Harga tembakau di Magetan anjlok tajam hingga Rp 3 ribu per kilogram. Petani merugi meski biaya perawatan tinggi. AJI PUTRA/RADAR MAGETAN
Komoditas tembakau diprediksi menjadi penopang ekonomi petani Ngawi selama musim kemarau tahun ini. AJI PUTRA/RADAR NGAWI

Jawa Pos Radar Ngawi – Musim kemarau panjang tahun ini membawa harapan besar bagi petani tembakau di Ngawi.

Komoditas tersebut diprediksi menjadi “emas hijau” baru yang menopang ekonomi masyarakat.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Ngawi Sojo mengatakan, tembakau masih menjadi salah satu komoditas dengan nilai ekonomi paling menjanjikan dibanding tanaman pangan lainnya.

“Tembakau masih menjadi salah satu komoditas dengan nilai ekonomi paling menjanjikan dibanding tanaman pangan lain,” katanya, Kamis (28/5).

Menurut Sojo, rata-rata produksi tembakau di Ngawi pada kondisi normal mencapai 1,8 ton per hektare.

Dengan asumsi harga jual berada di kisaran Rp 40 ribu per kilogram, petani berpotensi memperoleh pendapatan kotor hingga Rp 72 juta per hektare.

Sementara biaya produksi diperkirakan berada pada rentang Rp 38 juta hingga Rp 42 juta.

“Petani masih memiliki peluang keuntungan bersih sekitar Rp 30 juta per hektare,” ujarnya.

Prediksi musim kemarau dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi acuan petani mulai menanam tembakau tahun ini.

Pasalnya, tanaman tembakau membutuhkan cuaca panas dengan intensitas hujan rendah agar kualitas daun tetap maksimal.

Di sejumlah sentra produksi seperti Kecamatan Karangjati, aktivitas penanaman mulai terlihat sejak beberapa hari terakhir.

Meski memiliki potensi keuntungan besar, Sojo mengakui persoalan pasar masih menjadi tantangan utama petani tembakau di Ngawi.

Saat ini penyerapan hasil panen masih banyak bergantung pada kemitraan dengan PT Merabu sebagai pemasok bahan baku ke pabrikan besar.

APTI berharap kondisi pasar tembakau Ngawi dapat kembali seperti era sebelum 1980-an ketika sejumlah perusahaan rokok besar membeli hasil panen langsung dari wilayah sentra produksi.

“Dulu ada Bentoel, Gudang Garam, Djarum, sampai Sampoerna yang masuk langsung. Kalau itu bisa terjadi lagi, tentu persaingan serapan hasil panen akan lebih bagus,” terangnya.

Sojo menambahkan, perusahaan rokok besar umumnya tidak membeli langsung dari petani individu, melainkan melalui vendor atau pihak ketiga.

Karena itu, APTI terus menjalin komunikasi dengan berbagai vendor agar mau melirik kualitas tembakau asal Ngawi.

“Kami terus melakukan pendekatan dan komunikasi dengan berbagai vendor agar mau melirik kualitas tembakau Ngawi,” pungkasnya. (sae/cor)

Editor : Hengky Ristanto
tembakau ngawi musim kemarau petani tembakau harga tembakau APTI Ngawi