Jawa Pos Radar Ngawi – Kenaikan harga sapi menjelang Idul Adha 2026 diperkirakan memengaruhi pola berkurban masyarakat Ngawi.
Dinas Perikanan dan Peternakan (DPP) Ngawi menilai sebagian warga beralih memilih kambing atau domba karena harga sapi dinilai semakin sulit dijangkau.
Kabid Kesehatan Hewan DPP Ngawi Tony Wibowo mengatakan, lonjakan harga sapi berpotensi menurunkan jumlah pemotongan sapi pada Idul Adha tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya.
"Karena harga naik, minat berkurban sapi jadi turun," ujarnya, Jumat (29/5).
Meski belum memiliki data pasti jumlah hewan kurban yang akan dipotong tahun ini, DPP Ngawi telah memantau perkembangan harga ternak di pasaran.
Hasilnya, harga sapi kurban mengalami kenaikan cukup signifikan dibandingkan Idul Adha tahun lalu.
Jika sebelumnya harga sapi berada di kisaran Rp 21 juta per ekor, kini rata-rata mencapai Rp 24 juta per ekor.
Menurut Tony, kenaikan harga tersebut turut memengaruhi kelompok masyarakat yang selama ini membeli sapi secara patungan.
Apabila sebelumnya tujuh orang cukup menyisihkan sekitar Rp 3 juta per orang untuk membeli satu ekor sapi, kini diperlukan tambahan biaya agar jumlah dana yang terkumpul mencukupi.
"Sekarang ada tambahan sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per orang supaya bisa membeli satu ekor sapi," katanya.
Selain faktor harga sapi, kondisi ekonomi masyarakat juga dinilai berpengaruh terhadap keputusan berkurban.
Meningkatnya kebutuhan rumah tangga dan biaya hidup membuat sebagian warga memilih alternatif hewan kurban yang lebih terjangkau.
Pilihan tersebut umumnya jatuh pada kambing atau domba yang dapat dibeli secara individu tanpa harus melalui sistem patungan.
Menurut Tony, harga kambing maupun domba untuk kurban saat ini masih berada di kisaran Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per ekor, sehingga relatif lebih mudah dijangkau masyarakat.
"Kisaran Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta per ekor," jelasnya. (sae/her)
Editor : Hengky Ristanto