Jawa Pos Radar Ngawi – Volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Selopuro, Kecamatan Pitu, mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ngawi menyebut lonjakan tersebut dipicu penutupan sejumlah TPA yang masih menggunakan sistem open dumping atau pembuangan terbuka.
Kepala DLH Kabupaten Ngawi Dodi Aprilasetia mengatakan, sebelum kebijakan penutupan diterapkan, volume sampah yang masuk ke TPA Selopuro berkisar 33 hingga 35 ton per hari.
Namun saat ini jumlahnya meningkat menjadi 38 hingga 40 ton per hari.
"Sebelumnya 33–35 ton, kini mencapai 38–40 ton per hari," ujarnya, Sabtu (30/5).
Menurut Dodi, peningkatan volume sampah tidak terlepas dari ditutupnya beberapa TPA open dumping di sejumlah wilayah.
Sampah yang sebelumnya dibuang di lokasi tersebut kini dialihkan ke TPA Selopuro.
Beberapa lokasi yang telah ditutup antara lain TPA di wilayah Dadapan, Kecamatan Kendal, dan Mantingan.
Di lokasi tersebut telah dipasang fasilitas penunjang berupa landasan dan kontainer untuk mendukung sistem pengangkutan sampah ke TPA Selopuro.
"Di Dadapan, Kendal, dan Mantingan sudah dipasangi landasan serta kontainernya. Dari situ saja setiap hari 4–5 ton sampah harus diangkut ke TPA Selopuro," ungkapnya.
Dodi menjelaskan, kebijakan penutupan TPA terbuka merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah menghentikan praktik open dumping yang dinilai tidak ramah lingkungan dan berpotensi menimbulkan pencemaran.
Ke depan, lokasi TPA yang ditutup tersebut direncanakan akan menggunakan metode pengelolaan sampah yang lebih modern dan sesuai standar lingkungan, yakni sanitary landfill.
"Kalau sudah bisa sanitary landfill, mungkin akan kami buka kembali," jelasnya.
Meski volume sampah meningkat, DLH memastikan kapasitas TPA Selopuro masih mencukupi.
Untuk mengantisipasi penambahan beban, seluruh aktivitas pemrosesan akhir sampah saat ini dipusatkan di zona utara TPA yang masih memiliki ruang cukup luas.
Wilayah tersebut dinilai mampu menampung tambahan volume sampah sekaligus mendukung pengelolaan yang lebih aman dan terkendali.
"Masih ada ruang yang cukup," pungkas Dodi. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto