Prosesi nyadran dilakukan secara maraton di beberapa titik, di antaranya Punden Capang, Punden Asem Legi, Makam Ki Prawiro Guno, Makam Ki Kendro Wahono, dan Makam Jati Panji.
Ratusan warga tampak antusias mengikuti doa bersama, ziarah makam, hingga kenduri sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Penjabat (Pj) Kepala Desa Rejuno Supriyanto mengatakan, ziarah dilakukan bergilir mengingat lokasi makam dan punden tersebar di sejumlah wilayah desa.
“Ziarah ke makam para leluhur dilakukan secara bergilir karena lokasinya berbeda-beda. Ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus doa bersama untuk para pendahulu desa,” ujarnya.
Sebagai puncak kegiatan, panitia menghadirkan pertunjukan Wayang Tengul di dua lokasi berbeda.
Di Punden Capang dipentaskan lakon Marmoyo Mbangun Deso, sedangkan di Punden Asem Legi menghadirkan cerita Naradha Mbangun Khayangan.
Menurut Supriyanto, pemilihan Wayang Tengul merupakan hasil musyawarah desa sekaligus bentuk komitmen menjaga tradisi yang telah berlangsung turun-temurun.
“Ini bentuk rasa syukur kepada Tuhan, memohon keselamatan, menolak bala, sekaligus merawat warisan budaya lokal agar tidak punah. Tradisi ini juga menjadi media penyampaian pesan moral, sarana hiburan, dan ajang mempererat kerukunan warga,” jelasnya.
Baca Juga: UBHM Wisuda 285 Lulusan: Tiga Raih Predikat Terbaik, Dua Cetak IPK Sempurna
Dia menuturkan, cerita yang dibawakan dalam Wayang Tengul sarat nilai etika, kepemimpinan, dan budi pekerti yang masih relevan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat saat ini.
Selain sebagai hiburan rakyat, kegiatan tersebut juga menjadi ruang komunikasi antara pemerintah desa dan masyarakat. Melalui momentum Bersih Desa, warga dari berbagai kalangan usia dapat berkumpul dan memperkuat ikatan sosial.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi hiburan yang menyatukan semua lapisan masyarakat sekaligus wadah komunikasi antara pemerintah desa dengan warga,” katanya.
Supriyanto menilai keberadaan Wayang Tengul perlu terus dipertahankan di tengah derasnya arus modernisasi.
Menurutnya, generasi muda harus dikenalkan dengan budaya lokal agar memahami nilai filosofis yang terkandung di dalam tradisi Bersih Desa.
“Generasi muda perlu memahami bahwa Bersih Desa bukan sekadar pesta rakyat. Ada nilai menjaga hubungan baik dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan yang terkandung di dalamnya,” tambahnya.
Karena itu, dia mendorong keterlibatan pemuda dalam pelestarian budaya, salah satunya melalui dokumentasi dan publikasi di media sosial agar tradisi lokal semakin dikenal luas.
“Generasi muda bisa mengambil peran melalui dokumentasi yang menarik dan publikasi di media sosial tanpa menghilangkan nilai sakral tradisi yang ada,” ujarnya.
Tak hanya memiliki nilai spiritual dan budaya, Bersih Desa juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Kehadiran pasar dadakan, pedagang makanan, hingga pelaku jasa hiburan ikut menggerakkan roda perekonomian desa selama rangkaian kegiatan berlangsung.
“Perputaran uang cukup cepat melalui pasar kaget, peningkatan pendapatan pelaku seni dan jasa kreatif, hingga membuka peluang pengembangan wisata budaya,” terangnya.
Selain itu, tradisi kenduri dan berbagi ambengan dinilai turut memperkuat ketahanan sosial masyarakat. Seluruh warga dapat menikmati hidangan bersama tanpa memandang latar belakang ekonomi.
“Secara ekonomi, biaya yang dikeluarkan warga tidak hilang begitu saja, tetapi kembali berputar menjadi pendapatan bagi masyarakat desa. Sedangkan dari sisi sosial, semua warga bisa menikmati hidangan bersama sebagai bentuk kebersamaan,” pungkasnya. (rio/*/naz)
Editor : Mizan Ahsani