Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Harga BBM Nonsubsidi Naik, Operasional Truk Sampah di Ngawi Tetap Aman

Asep Syaeful • Minggu, 31 Mei 2026 | 15:30 WIB
Armada pengangkut sampah milik DLH Ngawi tetap beroperasi normal karena masih menggunakan biosolar subsidi untuk mendukung pelayanan publik. FOTO: DOK JAWA POS RADAR NGAWI
Armada pengangkut sampah milik DLH Ngawi tetap beroperasi normal karena masih menggunakan biosolar subsidi untuk mendukung pelayanan publik. FOTO: DOK JAWA POS RADAR NGAWI

Jawa Pos Radar Ngawi – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dipastikan tidak mengganggu layanan pengangkutan sampah di Kabupaten Ngawi.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyebut seluruh armada pengangkut sampah masih beroperasi normal karena menggunakan bahan bakar bersubsidi yang diperuntukkan bagi pelayanan publik.

Kepala DLH Ngawi Dodi Aprilasetia mengatakan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi tidak berdampak langsung terhadap anggaran operasional armada pengangkut sampah milik pemerintah daerah.

"Operasional pengangkutan sampah tidak terpengaruh penyesuaian harga BBM nonsubsidi," ujarnya, Minggu (31/5).

Menurut Dodi, armada pengangkut sampah masuk dalam kategori kendaraan pelayanan umum masyarakat sehingga masih diperbolehkan menggunakan biosolar bersubsidi sesuai ketentuan yang berlaku.

Karena itu, kenaikan harga BBM nonsubsidi belum memberikan tekanan terhadap biaya operasional pengangkutan sampah yang setiap hari dilakukan DLH.

"Armada masih bisa menggunakan biosolar," katanya.

Saat ini DLH Ngawi mengoperasikan sejumlah truk arm roll untuk melayani pengangkutan sampah dari 22 titik kontainer menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Selopuro di Kecamatan Pitu.

Setiap armada rata-rata melakukan satu hingga dua kali ritasi pengangkutan setiap hari untuk memastikan sampah tidak menumpuk di titik-titik pelayanan.

Meski tidak terdampak langsung oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi, DLH tetap mewaspadai meningkatnya kebutuhan bahan bakar akibat bertambahnya volume sampah yang harus diangkut ke TPA.

Menurut Dodi, peningkatan volume sampah otomatis akan berdampak pada frekuensi perjalanan armada.

Semakin banyak ritasi yang dilakukan, semakin besar pula konsumsi bahan bakar yang dibutuhkan.

"Kami mewaspadai potensi meningkatnya konsumsi bahan bakar akibat bertambahnya volume sampah yang harus diangkut," bebernya.

Karena itu, DLH mendorong masyarakat untuk ikut berperan mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Salah satunya dengan melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah serta mengoptimalkan pengelolaan sampah organik.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi beban TPA sekaligus menekan kebutuhan operasional armada pengangkut sampah.

"Kalau volume sampah bisa ditekan, ritasi truk juga tidak bertambah," pungkas Dodi. (sae/cor)

Editor : Hengky Ristanto
#BBM subsidi #lingkungan #tpa selopuro #sampah ngawi #dlh ngawi