Jawa Pos Radar Ngawi – Gejolak ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah mulai berdampak pada pelaksanaan proyek fisik di Kabupaten Ngawi.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) setempat terpaksa menghitung ulang harga perkiraan sendiri (HPS) untuk dua proyek strategis sebelum memasuki tahap lelang.
Dua proyek yang terdampak adalah pembangunan kantor organisasi kepemudaan di kawasan Taman Pemuda Soekarno dengan pagu anggaran Rp 5,6 miliar serta revitalisasi cagar budaya Rumah Kepatihan senilai Rp 1,6 miliar.
“Penyesuaian ini dilakukan dalam tahap peninjauan ulang perencanaan proyek sebelum masuk lelang,” ujar Kabid Bina Konstruksi DPUPR Ngawi Yesi Widyarti, kemarin (31/5).
Menurut Yesi, peninjauan ulang HPS dilakukan karena terjadi perubahan harga sejumlah material konstruksi di pasaran.
Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai ketidakpastian geopolitik global hingga pelemahan kurs rupiah yang berdampak pada biaya pengadaan material tertentu.
DPUPR kini melakukan survei harga pasar terbaru untuk memastikan nilai HPS yang digunakan sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
Langkah tersebut dinilai penting agar alokasi anggaran tetap mencukupi tanpa mengurangi kualitas maupun fungsi bangunan yang direncanakan.
“Kami membuat HPS baru berdasarkan survei harga pasar terkini,” katanya.
Selain itu, DPUPR juga menyiapkan sejumlah skenario apabila ditemukan lonjakan harga material yang cukup signifikan.
Salah satunya dengan menentukan skala prioritas pekerjaan tanpa mengurangi tujuan utama pembangunan.
Dari hasil pemantauan awal, kenaikan harga belum terjadi pada seluruh jenis material bangunan.
Namun, besi menjadi komponen yang mengalami kenaikan paling tinggi dibanding material lainnya.
Meski demikian, besaran kenaikan masih dalam tahap perhitungan dan evaluasi oleh tim teknis.
Jika proses peninjauan HPS dan administrasi berjalan lancar, kedua proyek tersebut ditargetkan tetap dapat memasuki tahap lelang pada Juni mendatang.
Pembangunan kantor organisasi kepemudaan di Taman Pemuda Soekarno diharapkan menjadi pusat aktivitas organisasi pemuda di Ngawi.
Sementara revitalisasi Rumah Kepatihan ditujukan untuk menjaga dan mengoptimalkan fungsi bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah penting bagi daerah.
“Semoga tidak ada kendala,” tandas Yesi. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto