Jawa Pos Radar Ngawi – Fenomena pasar wisata berbasis penanggalan Jawa kian menjamur di Kabupaten Ngawi.
Dalam beberapa tahun terakhir, sedikitnya 11 pasar bertema tempo dulu tumbuh di berbagai desa dan menjadi magnet baru wisata berbasis budaya serta ekonomi kerakyatan.
Mulai dari Pasar Jadoel Tawun, Pasar Jajal Wae Sumber Koso, hingga Pasar Dalu Tintir Pandansari, masing-masing menawarkan suasana tradisional yang memadukan kuliner, kesenian, dan produk lokal.
Namun, perkembangan pesat tersebut juga menjadi perhatian Pemkab Ngawi.
Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono mengingatkan agar seluruh pasar tidak mengusung konsep yang seragam sehingga berpotensi saling berebut pengunjung.
“Jangan sampai seluruh pasar menawarkan konsep yang sama dan akhirnya saling berebut pengunjung,” ujarnya, kemarin (3/6).
Menurut Ony, keberlanjutan pasar wisata sangat bergantung pada identitas yang dimiliki masing-masing lokasi.
Karena itu, setiap pasar didorong mengangkat potensi unggulan desa sebagai pembeda.
“Harus ada tema khusus di masing-masing pasar. Jangan sampai suguhannya sama semua sehingga masyarakat jenuh,” katanya.
Salah satu contoh yang dikembangkan adalah Pasar Jajal Wae Sumber Koso di Desa Girikerto, Kecamatan Sine.
Pasar tersebut diarahkan menjadi etalase produk pertanian lokal seperti buah-buahan, sayuran, serta jajanan khas desa.
Sementara itu, Pasar Dalu Tintir di Desa Pandansari dirancang terintegrasi dengan potensi peternakan kambing perah yang berkembang di wilayah tersebut.
“Nanti bisa dikembangkan produk olahan seperti susu kambing atau wedang susu kambing,” terangnya.
Ony menilai diferensiasi konsep akan membuat pasar-pasar wisata saling melengkapi, bukan saling bersaing. Dengan demikian, wisatawan memiliki lebih banyak pilihan destinasi dengan pengalaman yang berbeda di setiap lokasi.
“Sehingga jadi tujuan wisata alternatif yang berbeda,” ucapnya.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Ngawi Wiwien Purwaningsih menambahkan bahwa kemunculan pasar-pasar jadul sebagian besar lahir dari inisiatif masyarakat desa sendiri.
Menurut dia, pemerintah daerah lebih banyak berperan sebagai pendamping agar konsep pengelolaan dan pengembangan pasar wisata berjalan lebih matang.
“Teman-teman desa sudah memetakan potensi yang dimiliki. Kami hanya mengarahkan agar konsep dan pengelolaannya semakin matang,” jelasnya.
Wiwien menyebut pengelolaan pasar wisata saat ini juga semakin profesional. Berbagai unsur masyarakat mulai terlibat aktif, mulai karang taruna, kelompok sadar wisata (pokdarwis), BUMDes, hingga komunitas lokal.
Setiap pelaksanaan pasaran juga selalu dievaluasi untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan, mulai dari penataan lapak, kenyamanan pengunjung, hingga pengelolaan keuangan.
“Setelah pasaran selesai, mereka melakukan evaluasi untuk diterapkan pada kegiatan berikutnya. Itu yang membuat kualitas penyelenggaraan terus meningkat,” tandasnya. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto