Jawa Pos Radar Madiun - Pemerintah Desa (Pemdes) Karangasri, Kabupaten Ngawi, secara konsisten terus menunjukkan komitmennya dalam upaya penanggulangan stunting pada balita.
Berbagai langkah riil terus dilakukan secara masif dalam rangka mewujudkan target ambisius zero stunting di wilayah tersebut.
Selain mengoptimalkan fungsi Posyandu, pihak Pemdes juga rutin melaksanakan program Pos Gizi yang digelar setiap tahunnya.
Kepala Desa Karangasri, Haryono Seputro, mengungkapkan bahwa program Pos Gizi ini menjadi salah satu upaya paling serius dalam menangani kasus stunting.
Menurutnya, realisasi dari program tersebut sejauh ini telah memberikan manfaat yang sangat besar, khususnya bagi balita dan kaum ibu.
"Dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan dengan semakin menurunnya stunting di wilayah kami," sebut Haryono.
Ia menjelaskan bahwa Pos Gizi dirancang secara khusus sebagai program intervensi intensif yang berlangsung selama 12 hari berturut-turut.
Fokus utama kegiatan ini bukan sekadar ajang pembagian makan gratis, melainkan bertujuan mengubah perilaku asuh dan pola makan melalui praktik langsung.
"Melalui cara tersebut jelas lebih efektif karena memastikan makanan benar-benar masuk ke mulut balita dan mentransfer ilmu memasak secara permanen," jelasnya.
Baca Juga: Aura MotoGP Makin Kental, Segini Harga Spesial Yamaha MX King 150 Prima Pramac Livery
Haryono menilai bahwa edukasi mengenai pola asuh atau parenting merupakan salah satu pilar paling krusial dalam penanggulangan stunting anak.
Banyak penelitian membuktikan bahwa pola asuh yang kurang tepat justru sering menjadi penyebab utama stunting, bahkan mengalahkan faktor ekonomi.
Artinya, ketersediaan bahan pangan di rumah tangga tidak menjamin anak terbebas dari stunting jika tidak dibarengi dengan pengetahuan gizi yang benar.
"Penanggulangan stunting tidak akan pernah tuntas jika intervensi hanya berupa bantuan pangan, sebab kunci keberlanjutannya ada pada transformasi pola asuh," tuturnya.
Sementara itu, Kader Desa Karangasri, Martina, menyebutkan bahwa seluruh kegiatan penanggulangan gizi buruk ini mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah desa.
Pemdes memiliki peran yang sangat strategis sebagai ujung tombak dengan mengalokasikan sebagian anggaran Dana Desa untuk pencegahan stunting.
Dukungan tersebut juga mencakup pembentukan regulasi desa, penguatan kelembagaan, hingga penggerakan elemen masyarakat secara luas.
Pemdes turut mengoordinasikan berbagai lembaga seperti PKK dan Kader Pembangunan Manusia (KPM) agar bergerak seirama dalam satu visi yang sama.
"Intervensi stunting tidak lagi sekadar menjadi program administratif, melainkan gerakan perubahan perilaku yang berkelanjutan di tingkat keluarga," terang Martina.
Terkait asupan makanan, Martina membeberkan bahwa menu dalam kegiatan Pos Gizi sangat bervariasi dengan menonjolkan tingginya kandungan protein hewani.
Kader desa memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah didapat dan harganya murah, namun tetap diolah dengan standar prosedur kesehatan.
Sumber protein hewani seperti telur, ikan, ayam, hati, dan daging diklaim menjadi kunci utama untuk mengejar ketertinggalan tumbuh kembang balita.
Martina memastikan bahwa kader PKK selalu memperhatikan formula khusus agar variasi menu tersebut benar-benar efektif menaikkan berat badan.
"Poin yang diperhatikan yaitu protein ganda, tambahan lemak sehat, tekstur yang tepat, dan tampilan yang menarik," pungkasnya. (*)
Editor : Mizan Ahsani