Jawa Pos Radar Ngawi – Seorang santri Pondok Pesantren Miftahul Jannah dilaporkan tenggelam di Sungai Bengawan Solo wilayah Desa Mantingan, Kecamatan Mantingan, Kamis (11/6) sore.
Hingga hari kedua pencarian, Jumat (12/6), korban masih belum ditemukan.
Korban diketahui bernama Muhamad Maulana Rifai, 14, warga Desa Mlale, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Saat kejadian, korban bersama 13 santri lainnya mandi di Sungai Bengawan Solo.
Musibah bermula ketika korban berenang menuju bagian tengah sungai.
Diduga karena kedalaman sungai yang mencapai sekitar lima meter serta kuatnya arus bawah, korban kehilangan kendali dan terseret arus.
Rekan-rekan korban yang berada di lokasi sempat berusaha memberikan pertolongan dengan menyodorkan sebatang bambu.
Namun upaya tersebut tidak berhasil karena korban dengan cepat tenggelam dan hilang dari permukaan air.
“Mereka sempat menyodorkan sebatang bambu ke arah korban, upaya itu gagal karena tubuh korban dengan cepat tenggelam dan hilang dari permukaan air,” ujar relawan, Joko Tris.
Mendapat laporan kejadian tersebut, aparat kepolisian bersama unsur terkait langsung mendatangi lokasi untuk melakukan penanganan awal dan koordinasi pencarian.
Kapolsek Mantingan Iptu Andy Wijayanto mengatakan petugas telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Dari lokasi kejadian, petugas menemukan sejumlah barang milik korban yang ditinggalkan di tepi sungai.
“Di tepi sungai, petugas hanya menemukan barang-barang milik korban berupa selembar sarung, kaos, dan sepasang sandal,” ungkapnya.
Sementara itu, Kasi Penyelamatan Damkar Ngawi Rohmad Angga menjelaskan kondisi sungai menjadi tantangan utama dalam proses pencarian.
Kedalaman air serta arus bawah yang cukup kuat membuat pencarian harus dilakukan secara hati-hati.
Pencarian pada hari pertama sempat dihentikan menjelang malam karena keterbatasan jarak pandang dan faktor keselamatan tim.
“Kami sempat mengalami kesulitan di hari pertama karena arus air di bagian bawah cukup deras dan sungai di titik tersebut sangat dalam,” ujarnya.
Pada hari kedua, tim SAR gabungan mendapat tambahan personel dari Basarnas.
Untuk memaksimalkan pencarian, petugas dibagi menjadi dua regu.
Regu pertama melakukan teknik pengeboran air atau membuat pusaran di titik terakhir korban terlihat.
Metode tersebut dilakukan untuk membantu mengangkat objek yang diduga berada di dasar sungai.
Sementara regu kedua melakukan penyisiran sepanjang aliran sungai menggunakan perahu karet.
“Hingga saat ini pencarian masih nihil,” terang Rohmad. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto