Jawa Pos Radar Ngawi – Minat masyarakat terhadap jenjang sekolah dasar (SD) di Sekolah Rakyat (SR) Kabupaten Ngawi masih sangat rendah.
Hingga kini, jumlah pendaftar baru mencapai tiga siswa, jauh di bawah target penerimaan sebanyak 90 peserta didik.
Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono mengatakan sistem asrama atau boarding school menjadi salah satu alasan yang membuat banyak orang tua masih ragu menyekolahkan anaknya di Sekolah Rakyat.
"Kami sedang mengajak rundingan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial, dan juga Kementerian Sosial," ujarnya, Senin (29/6).
Sebagai solusi, Pemkab Ngawi mengusulkan agar kuota yang belum terpenuhi dapat dialihkan kepada anak-anak yatim maupun piatu yang tinggal di panti asuhan.
Namun, usulan tersebut masih menunggu kepastian dari pemerintah pusat karena harus menyesuaikan petunjuk teknis (juknis) program Sekolah Rakyat.
"Kalau diperkenankan, kami akan mengajukan list ke Kementerian Sosial untuk diisi oleh anak-anak kita dari panti asuhan di sekitar Ngawi," terangnya.
Ony menjelaskan, sasaran utama Sekolah Rakyat memang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kategori desil I dan II atau kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Meski demikian, pelaksanaan di lapangan menghadapi kendala tersendiri.
Banyak orang tua menilai anak usia SD masih terlalu kecil untuk tinggal di asrama.
"Karena untuk tingkat SD, anak-anak dinilai masih terlalu kecil," ucapnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto