Jawa Pos Radar Madiun - Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah Madiun–Ngawi berupaya menjawab tantangan kesenjangan kompetensi lulusan SMK,
dengan kebutuhan riil dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Salah satunya dengan menjalankan program Triple Match.
Inovasi yang digagas dan dikomandoi oleh Kepala Cabdindik Wilayah Madiun–Ngawi Lena itu hadir untuk memperkuat sinergi tiga pilar utama.
Meliputi sekolah, industri, dan pemerintah daerah. ‘’Keberhasilan pendidikan vokasi tidak lagi cukup diukur dari jumlah lulusan,
melainkan dari seberapa besar mereka terserap pada pekerjaan yang sesuai kompetensinya,’’ ujarnya.
Menurut Lena, pesatnya pertumbuhan investasi di wilayah Madiun dan Ngawi merupakan peluang emas.
Namun, sering kali kebutuhan tenaga kerja sektor manufaktur hingga jasa belum bisa diisi sepenuhnya oleh talenta lokal akibat ketidaksesuaian skill.
Di sisi lain, sekolah kerap terlambat mendapat informasi akurat terkait proyeksi pasar kerja.
‘’Melalui Triple Match, pola hubungan sekolah dan industri yang semula sekadar administratif diubah menjadi kemitraan strategis,’’ ucapnya.
Pemda dilibatkan sebagai regulator sekaligus fasilitator. Melalui sistem berbasis data yang terintegrasi,
pemetaan kebutuhan industri menjadi presisi, sehingga sekolah memiliki acuan pasti dalam mendidik siswanya.
Baca Juga: Gebrakan Program Master Cete Agus Sucipto Sukses Padukan Outdoor Learning dan Gerakan Ekonomi UMKM
‘’Kolaborasi ketiga unsur ini harus dibangun dalam satu ekosistem yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berorientasi hasil,’’ imbuhnya.
Lena optimistis Triple Match akan menjadi cetak biru kolaborasi yang membawa dampak ganda.
Yakni, meluaskan peluang kerja lulusan, memenuhi standar tenaga kerja industri, dan mengerek perekonomian kawasan.
‘’Ini adalah model kolaborasi untuk mewujudkan satu tujuan bersama. Lulusan terserap, industri terpenuhi, dan daerah bertumbuh,’’ pungkasnya. (chi/cor/*)
Editor : Tim Magang Radar Madiun