Jawa Pos Radar Madiun – Tolok ukur keberhasilan sebuah sistem tata kelola pendidikan modern tidak boleh lagi terpenjara dalam pencapaian angka-angka akademis kaku di atas lembar rapor. Instansi pendidikan memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk memastikan bahwa derap maju digitalisasi tidak mencabut akar jati diri, moralitas, dan rasa cinta generasi muda terhadap kebudayaan asli tanah kelahirannya.
Tantangan krusial itulah yang dijawab tuntas oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Ngawi. Di bawah komando Kabul Tunggul Winarno, S.IP, instansi yang mengampu dua lini strategis sekaligus ini bergerak progresif menyelaraskan program pengajaran sekolah formal dengan upaya pelestarian adat istiadat kearifan lokal secara berkelanjutan.
"Pendidikan tidak boleh berjarak dengan akar budayanya. Harapan kami, proses belajar mengajar di masing-masing lembaga sekolah tetap memegang teguh dan tidak meninggalkan budaya asli Ngawi. Materi terkait adat dan tradisi harus tersampaikan secara kontekstual kepada anak didik," tegas Kepala Dikbud Ngawi, Kabul Tunggul Winarno.
Baca Juga: Gagas Prasasti Smaga, Strategi Riful Hamidah Pacu Guru SMAN 3 Magetan Lahirkan Inovasi
Langkah internalisasi nilai keluhuran ini dieksekusi secara terstruktur melalui optimalisasi mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok). Dikbud Ngawi merancang draf kurikulum mulok yang memacu siswa tidak sekadar menghafal teori, melainkan terjun langsung mempraktikkan seni karawitan, seni tari, hingga pengenalan tata cara upacara adat daerah. Pola ini dinilai efektif untuk menanamkan rasa memiliki (sense of belonging) dan kebanggaan kultural sejak usia dini.
Guna melengkapi ekosistem tersebut, komitmen Kabul tidak mandek di dalam ruang kelas. Dikbud Ngawi melakukan langkah taktis dengan merehabilitasi Cagar Budaya Rumah Kepatihan untuk disulap menjadi Taman Budaya yang representatif. Infrastruktur bersejarah ini diproyeksikan berdiri sebagai hilir dari proses pendidikan, yakni sebuah panggung apresiasi besar bagi para siswa untuk mendemonstrasikan hasil karya, mengasah rasa percaya diri, dan tampil di depan publik luas.
Baca Juga: Cetak Gen Digdaya Berstandar Global, Lismawati Sukses Digitalisasi Seluruh SD-SMP Negeri
Aktivitas kebudayaan di situs makro tersebut sejatinya telah dihidupkan secara konsisten melalui agenda rutin Gelar Budaya Kliwonan. Ke depan, setelah proses pembenahan fasilitas rampung, draf kerja sama dan standardisasi penampilan seni budaya antarsekolah akan dibranding lebih kuat agar perputaran ekspresi kreativitas siswa dapat berjalan sepanjang tahun.
Terobosan ini menjadi prototipe konkret mengenai pentingnya mengembalikan fungsi sekolah sebagai pusat peradaban. "Kami ingin memastikan apa yang dipelajari anak-anak di sekolah memiliki wadah nyata untuk diekspresikan. Melalui untaian kreasi ini, mereka tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi tumbuh menjadi bagian aktif dari pelestari budaya Ngawi yang sesungguhnya," pungkas Kabul. (sae/ser/naz)
Editor : Tim Magang Radar Madiun