Jawa Pos Radar Madiun - Melalui tata kelola kegiatan non-akademik yang presisi, MIN 13 Ngawi berhasil menyulap seni karawitan tradisional bernama Krido Tanoyo bukan hanya sebagai wadah pelestarian budaya, melainkan sebagai instrumen inovatif untuk membentuk unggah-ungguh dan karakter islami anak didik.
‘’Bagi siswa tingkat Madrasah Ibtidaiyah, belajar karawitan bukan sekadar memainkan alat musik tradisional. Di dalam tabuhan gamelan terkandung nilai filosofis, estetis, dan edukatif yang sangat tinggi untuk mengasah kecerdasan anak sejak dini,’’ terang Kepala MIN 13 Ngawi Sukarwan.
Sukarwan menjelaskan bahwa harmoni dalam bermain gamelan mengajarkan siswa menekan sifat egois.
Setiap anak dituntut menahan diri agar tidak memukul instrumen terlalu keras atau terlalu cepat mendahului rekan lainnya.
Secara psikologis, pola ini melatih sifat tawadu' (rendah hati), kedisiplinan, serta kesabaran nyata di lapangan.
Baca Juga: Bangkitkan Budaya Juara, SMKN 1 Pacitan Cetak Rekor Nasional di Ajang LKS
Di era modern, implementasi seni musik tradisional ini secara konkret mendukung pemenuhan Kurikulum Merdeka, khususnya dalam menyukseskan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) serta Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin pada dimensi Berkebinekaan Global dan Gotong Royong.
Atas kreativitas tinggi, konsistensi mutu, serta keberhasilan mengarsiteki model pembelajaran holistik yang menyentuh aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik anak secara simultan ini, MIN 13 Ngawi dianugerahi penghargaan Innovative Learning Radar Madiun Education Awards 2026.
‘’Melalui karawitan, siswa tidak sedang menghafal teori karakter di atas kertas, melainkan sedang mempraktikkan esensi gotong royong dan kesabaran itu secara nyata untuk masa depan mereka,’’ pungkasnya. (rio/*/naz)
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun