Jawa Pos Radar Ngawi – Nasib peternak ayam petelur di Kabupaten Ngawi kian terpuruk.
Lonjakan harga pakan yang tidak diimbangi harga jual telur membuat banyak peternak memilih menghentikan produksi agar kerugian tidak semakin membengkak.
Kondisi tersebut salah satunya terjadi di Desa Ploso, Kecamatan Kendal.
Sejumlah kandang ayam kini dibiarkan kosong setelah pemiliknya memutuskan tidak lagi memelihara ayam petelur.
"Terpaksa kandang dikosongkan supaya kerugiannya tidak semakin besar," ujar Ratnawati, Kamis (2/7).
Harga pakan ayam di tingkat peternak kini mencapai Rp 455.500 per karung ukuran 50 kilogram.
Padahal sebelumnya masih berada di kisaran Rp 408.000 per karung.
Di sisi lain, harga telur justru turun dari sekitar Rp 23.000 menjadi hanya Rp 19.000 per kilogram.
Kondisi tersebut membuat pendapatan peternak tidak lagi mampu menutup biaya produksi, terutama untuk pembelian pakan.
"Harga pakan terus naik, sedangkan harga telur malah anjlok," katanya.
Krisis usaha peternakan ayam petelur itu telah berlangsung sekitar dua bulan terakhir.
Dari sekitar 60 peternak yang ada di Desa Ploso, sebagian besar memilih menghentikan usaha sementara karena terus merugi.
Peternak yang masih bertahan pun harus mencari cara agar usaha tetap berjalan.
Salah satunya dengan memperluas pemasaran hingga ke luar daerah untuk menghindari penumpukan stok telur.
"Rata-rata setiap peternak memelihara sekitar 2.000 sampai 10.000 ekor ayam," jelas Ratnawati.
Peternak lainnya, Rokhim, mengaku kini harus menjual telur hingga wilayah Kaliurang, Yogyakarta.
Sebelumnya, pasar terjauhnya hanya sampai Sragen, Jawa Tengah.
"Keadaannya semakin berat. Pakan naik, tapi telur sulit terjual," ungkapnya.
Namun, memperluas pemasaran belum mampu memperbaiki kondisi usaha.
Rokhim mengatakan, penjualan telur dengan harga Rp 19.000 per kilogram tidak dibayar secara tunai.
Pembeli baru melunasi pembayaran sekitar tiga hari setelah barang diterima.
Sistem pembayaran tempo tersebut membuat perputaran modal peternak semakin tersendat di tengah tingginya biaya operasional.
"Mau tidak mau harus ambil risiko daripada terus merugi," pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto