Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Angka Kebutaan di Ngawi Capai 4 Persen, Dinkes Perkuat Deteksi Dini

Asep Syaeful • Sabtu, 4 Juli 2026 | 16:15 WIB
KONSULTASI PUBLIK: Dinkes Ngawi bersama Yayasan Para Mitra Indonesia menggelar diskusi penguatan layanan kesehatan mata untuk menekan angka gangguan penglihatan dan kebutaan.
KONSULTASI PUBLIK: Dinkes Ngawi bersama Yayasan Para Mitra Indonesia menggelar diskusi penguatan layanan kesehatan mata untuk menekan angka gangguan penglihatan dan kebutaan.

Jawa Pos Radar Ngawi – Angka gangguan penglihatan dan kebutaan di Kabupaten Ngawi masih menjadi perhatian serius.

Berdasarkan data terbaru, prevalensi kebutaan mencapai 4 persen atau lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di kisaran 3 persen.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Ngawi Retno Dewi Sulistiorini mengatakan, tingginya angka tersebut menjadi tantangan karena usia harapan hidup (UHH) masyarakat Ngawi juga terus meningkat.

"Angka gangguan penglihatan tinggi, tentu sangat disayangkan. Kami tidak ingin umur panjang tapi tidak produktif," ujarnya, Sabtu (4/7).

Untuk menekan angka kebutaan, Dinkes Ngawi bekerja sama dengan Yayasan Para Mitra Indonesia melalui program Intensive System for Inclusive Eye Care (ISEE).

Program itu bertujuan membangun sistem pelayanan kesehatan mata yang terintegrasi, mulai dari deteksi dini di tingkat pelayanan dasar hingga sistem rujukan ke rumah sakit.

Selain memperkuat layanan, program tersebut juga mencakup pelatihan bagi guru, kader kesehatan, dokter, dan tenaga kesehatan puskesmas agar mampu melakukan skrining serta mendeteksi gangguan mata sejak dini.

"Selain itu juga melatih guru dan kader untuk melakukan skrining dini, serta melatih dokter dan tenaga kesehatan di puskesmas untuk mendeteksi gangguan mata," terangnya.

Jika ditemukan kasus yang membutuhkan penanganan lanjutan, pasien akan dirujuk ke rumah sakit.

Saat ini, RSUD dr. Soeroto dan RS Widodo telah dilengkapi peralatan kesehatan mata yang lebih modern melalui dukungan Yayasan Para Mitra Indonesia, khususnya untuk penanganan kasus low vision.

Retno menjelaskan, penyebab gangguan penglihatan di Ngawi masih didominasi katarak dan glaukoma.

Namun, peningkatan kasus retinopati diabetik akibat komplikasi diabetes melitus menjadi perhatian tersendiri.

Menurutnya, tren penderita diabetes juga mulai bergeser.

Jika sebelumnya identik dengan kelompok lanjut usia, kini kasus diabetes semakin banyak ditemukan pada masyarakat usia produktif.

"Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan adanya pergeseran usia penderita diabetes di Ngawi. Jika dahulu diabetes identik sebagai penyakit lansia, kini gejalanya sudah banyak ditemukan pada masyarakat usia produktif antara 30 hingga 40 tahun," jelasnya. (sae/den)

Editor : Hengky Ristanto
#Angka kebutaan Ngawi #Gangguan penglihatan #Retinopati diabetik #Katarak dan glaukoma #dinkes ngawi