Jawa Pos Radar Madiun - Upaya nyata dalam menjaga kelestarian adat istiadat leluhur sekaligus menyuntikkan semangat regenerasi seni tradisional sukses ditunjukkan oleh jajaran Pemerintah Desa (Pemdes) Setono, Kecamatan Ngrambe, Ngawi.
Peringatan agenda tahunan bersih desa di wilayah tersebut berlangsung sangat semarak dengan dipusatkan langsung di area lapangan desa setempat dari Kamis (2/6) malam hingga Jumat dini hari.
Berbeda dari gelaran pada umumnya, pertunjukan wayang kulit yang mengusung lakon Laire Gatotkoco ini dikemas unik karena dibawakan secara bergantian oleh empat orang dalang muda.
Kepala Desa Setono, Pradana Digdya Wahana, mengungkapkan bahwa momentum bersih desa kali ini sengaja dirancang untuk membawa misi besar dalam hal penyelamatan dan pelestarian kebudayaan lokal.
“Nguri-nguri budaya bagian dari tanggung jawab kita semua termasuk generasi muda salah satunya melalui pagelaran wayang kali ini,” ungkap Pradana saat membuka prosesi penyerahan tokoh wayang kepada sang dalang.
Ajarkan Budi Pekerti Luhur di Tengah Arus Teknologi
Pradana menyebutkan bahwa selain menjadi wadah efektif untuk proses regenerasi, kisah pewayangan juga menyimpan banyak sekali draf pelajaran hidup yang kaya akan nilai filosofi luhur.
Melalui pendalaman karakter dan pesan moral yang disampaikan dalam cerita, generasi muda diharapkan mampu menyerap sekaligus mengimplementasikan budi pekerti yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Penanaman karakter ini dinilai sangat krusial, terlebih di tengah gempuran arus teknologi informasi dan globalisasi modern saat ini agar generasi bangsa tidak melupakan identitas budaya Jawa.
Baca Juga: Cerpen Wayang Kutukan Aswatama 1: Panah Pasupati Tak Mampu Renggut Nyawanya
Secara historis, tradisi bersih desa telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan masyarakat Desa Setono yang diwariskan secara turun-menurun.
Tujuan utama dari ritual komunal ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur yang mendalam atas segala karunia, ketenteraman hidup bermasyarakat, hasil pertanian yang melimpah, hingga kelancaran program pembangunan desa.
Penggerak Roda Ekonomi dan Sektor Industri Kreatif Lokal
Agenda sakral ini turut dihadiri oleh jajaran Camat Ngrambe, BPD, Babinsa, Bhabinkamtibmas, kepala desa se-Kecamatan Ngrambe, tokoh masyarakat, hingga jajaran anggota DPRD Ngawi.
Selain menjadi ruang spiritual dan budaya, perhelatan yang menyedot perhatian ribuan warga ini juga sukses menjelma sebagai katalisator perputaran roda ekonomi bagi para pelaku UMKM setempat.
Apresiasi tinggi juga datang dari Camat Ngrambe, Dhanang Wahyudi Priyanto, yang sangat mendukung penuh langkah Pemdes Setono dalam memfasilitasi para pemuda untuk terjun ke dunia karawitan dan pedalangan.
Dhanang menilai keterlibatan aktif para pekerja seni lokal, mulai dari kru multimedia, penyedia jasa terop, hingga penabuh gamelan, otomatis ikut mendongkrak pendapatan sektor industri kreatif daerah.
Dukungan serupa disampaikan oleh Anggota DPRD Ngawi, Pujo Wahono, yang berkomitmen untuk terus mengawal pembinaan kesenian Jawa di Desa Setono secara konsisten, termasuk memperjuangkan bantuan sarana prasarana karawitan bagi para pemuda. (*)