Jawa Pos Radar Ngawi – Pagelaran wayang kulit dalam rangka bersih desa di Desa Setono, Kecamatan Ngrambe, menghadirkan suasana berbeda.
Jika biasanya pertunjukan hanya dimainkan satu dalang, kali ini empat dalang muda tampil bergantian dalam satu kelir membawakan lakon Lahire Gatutkaca.
Pentas budaya yang digelar Kamis (2/7) itu menjadi bagian dari upaya melestarikan sekaligus meregenerasi seni pewayangan di tengah derasnya perkembangan teknologi dan budaya modern.
Kepala Desa Setono Pradana Digdya Wahana mengatakan, keterlibatan dalang muda diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya Jawa.
Selain sebagai hiburan, lakon yang dipentaskan juga sarat nilai moral dan pendidikan karakter.
"Ini sangat diperlukan apalagi di era teknologi dan globalisasi sekarang agar generasi bangsa tak mengesampingkan budaya Jawa," ujarnya.
Menurut Pradana, tradisi bersih desa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Setono.
Kegiatan tersebut merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berbagai nikmat yang diterima, mulai dari kehidupan masyarakat yang kondusif, hasil pertanian yang baik, hingga keberhasilan berbagai program pembangunan desa.
"Kami berharap masyarakat Desa Setono dapat menjaga dan mensyukuri nikmat tersebut dengan semakin baik," katanya.
Camat Ngrambe Dhanang Wahyudi Priyanto mengapresiasi pelaksanaan bersih desa yang tetap mempertahankan nilai-nilai budaya lokal.
Dia menilai, semakin banyaknya dalang muda yang tampil akan menjadi inspirasi bagi generasi lain untuk ikut melestarikan seni pewayangan.
"Di Ngawi sejauh ini mulai banyak generasi usia dini yang berminat dengan pewayangan," ungkapnya.
Kegiatan tersebut juga dihadiri anggota DPRD Ngawi Pujo Wahono.
Menurut dia, generasi muda yang terus nguri-uri budaya Jawa akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki karakter dan budi pekerti luhur.
"Ini menjadi modal penting bagi sosok pemimpin bangsa," tandasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto