Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Sejarah Baru Hari Jadi Ngawi, Keris Kanjeng Kiai Parikesit Jadi Pusaka Daerah

Asep Syaeful • Senin, 6 Juli 2026 | 20:45 WIB
Prosesi jamasan dan Kirab Budaya Hari Jadi ke-668 Kabupaten Ngawi menghadirkan sejarah baru dengan diperkenalkannya Keris Kanjeng Kiai Parikesit sebagai pusaka baru milik Pemkab Ngawi. ASEP SYAEFUL/RADAR NGAWI
Prosesi jamasan dan Kirab Budaya Hari Jadi ke-668 Kabupaten Ngawi menghadirkan sejarah baru dengan diperkenalkannya Keris Kanjeng Kiai Parikesit sebagai pusaka baru milik Pemkab Ngawi. ASEP SYAEFUL/RADAR NGAWI

Jawa Pos Radar Ngawi - Malam peringatan Hari Jadi ke-668 Kabupaten Ngawi tahun ini menjadi momen yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Di tengah suasana khidmat prosesi jamasan Piandel Agung, Pemkab Ngawi resmi memperkenalkan sebuah pusaka baru yang langsung mencatatkan sejarah.

Untuk pertama kalinya, keris Kanjeng Kiai Parikesit dijamas dan dikirab bersama pusaka-pusaka kebesaran Kabupaten Ngawi.

Kehadirannya menambah koleksi pusaka daerah sekaligus menjadi simbol semangat baru bagi pemerintah dan masyarakat Ngawi.

Prosesi sakral tersebut digelar di Pendopo Wedya Graha pada Sabtu malam (4/7), kemudian dilanjutkan dengan Kirab Budaya mengelilingi kawasan Alun-Alun hingga kompleks Kantor Pemkab Ngawi.

Ribuan warga tampak memadati sepanjang rute kirab untuk menyaksikan tradisi tahunan tersebut.

Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono mengatakan kehadiran Kanjeng Kiai Parikesit menjadi tonggak sejarah baru dalam tradisi Piandel Agung Kabupaten Ngawi.

Sebelumnya, Pemkab Ngawi hanya memiliki dua pasang pusaka kebesaran.

Yakni, tombak Kiai Songgolangit beserta Songsong Agung Tunggul Wulung.

Kemudian, tombak Kiai Singkir beserta Songsong Agung Tunggul Warono.

Dengan bertambahnya Kanjeng Kiai Parikesit, koleksi pusaka daerah kini semakin lengkap.

"Kehadiran pusaka baru ini digagas bersama Wakil Bupati dan panitia sebagai sebuah tetenger atau tinggalan sejarah bagi generasi pimpinan Ngawi di masa depan," ujarnya, Senin (6/7).

Keris Kanjeng Kiai Parikesit resmi menjadi koleksi Pemerintah Kabupaten Ngawi sejak Kamis (2/7).

Nama Parikesit dipilih karena memiliki makna filosofis sebagai "Sang Pencari", yakni sosok yang mampu menemukan jalan keluar dan menghadirkan inovasi dalam menghadapi berbagai tantangan.

Menurut Ony, filosofi tersebut sangat relevan dengan kondisi yang dihadapi pemerintah daerah dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari pandemi Covid-19, dinamika geopolitik global, hingga kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat.

"Kehadiran Kanjeng Kiai Parikesit menjadi perlambang semangat bagi seluruh jajaran Pemkab dan masyarakat Ngawi untuk terus bergerak maju dengan semangat gotong royong dan terus berinovasi," katanya.

Selain hadirnya pusaka baru, pelaksanaan Kirab Budaya tahun ini juga mengalami sejumlah penyesuaian.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya Piandel Agung lebih dahulu disemayamkan di Balai Desa Ngawi Purba sebelum dikirab, kali ini seluruh pusaka langsung diarak setelah prosesi jamasan selesai.

Rute kirab juga dibuat lebih ringkas dengan mengelilingi Alun-Alun Ngawi, Pendopo Wedya Graha dan Kompleks Kantor Pemkab Ngawi.

Bupati Ony menjelaskan penyederhanaan rute kirab merupakan bentuk penyesuaian terhadap kebijakan efisiensi anggaran.

Namun, menurutnya, langkah tersebut tidak mengurangi makna budaya maupun nilai sejarah yang ingin diwariskan kepada masyarakat.

"Inti dari kirab ini adalah memberikan wawasan, informasi, dan pengetahuan kepada masyarakat bahwa Kabupaten Ngawi memiliki pusaka-pusaka daerah. Di era efisiensi ini, kita ingin maknanya tidak berkurang, tetapi anggaran tetap hemat," tegas Ony. (sae/den)

Editor : Hengky Ristanto
#Kanjeng Kiai Parikesit #Kirab Budaya Ngawi #Piandel Agung #Hari Jadi Ngawi #kabupaten ngawi