Jawa Pos Radar Ngawi - Menjelang dimulainya tahun ajaran baru, Sekolah Rakyat Terintegrasi di Desa Karangtengah Prandon, Kecamatan Ngawi, menghadapi dinamika pada proses penerimaan peserta didik baru.
Sejumlah calon siswa jenjang SMP memilih mengundurkan diri, meski pembangunan fisik sekolah hampir selesai dan operasional tetap dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Juli.
Pemerintah Kabupaten Ngawi memastikan perubahan jumlah peserta didik tidak akan mengganggu kesiapan pelaksanaan program Sekolah Rakyat yang merupakan inisiatif Kementerian Sosial (Kemensos) RI.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Ngawi Bonadi menjelaskan, pengunduran diri belasan calon siswa SMP dipengaruhi keraguan sebagian orang tua.
Menurutnya, jadwal pendaftaran Sekolah Rakyat yang bertepatan dengan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMP reguler membuat sejumlah wali murid memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah umum.
"Karena diliputi keraguan, mereka akhirnya memilih untuk memindahkan dan mendaftarkan anaknya ke SMP reguler," kata Bonadi, Senin (6/7).
Berdasarkan data terbaru pada sistem pendaftaran, jumlah calon peserta didik di setiap jenjang menunjukkan perkembangan yang berbeda.
Berikut kondisi sementara peserta didik, tiga calon siswa SD, SMP dari kuota 90 siswa, kini tersisa 78 siswa setelah belasan peserta mengundurkan diri.
SMA dari kuota 90 siswa meningkat menjadi 92 calon siswa.
Secara keseluruhan, Sekolah Rakyat Terintegrasi Ngawi menyediakan 270 kursi, masing-masing 90 kursi untuk jenjang SD, SMP, dan SMA pada kelas I.
"Secara keseluruhan, kuota total Kabupaten Ngawi untuk Sekolah Rakyat Terintegrasi ini adalah 270 kursi, dengan pembagian masing-masing 90 kursi per jenjang untuk pengisian kelas 1 (satu) baru," terangnya.
Di tengah perubahan jumlah peserta didik, progres pembangunan fisik sekolah justru menunjukkan hasil positif.
Bonadi menyebut hingga 29 Juni, pembangunan telah mencapai 88,526 persen, atau mengalami deviasi positif 1,963 persen dibanding target yang telah ditetapkan.
Ruang belajar untuk jenjang SMP dan SMA bahkan sudah siap digunakan lengkap dengan kursi dan fasilitas pendukung lainnya.
"Progres fisik total, bangunan SMA dan SMP masing-masing sudah menyentuh 93 persen, sedangkan untuk SD saat ini masih di angka 70 persen," jelasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto