Jawa Pos Radar Madiun - Kebakaran kembali melanda sebuah pabrik sumpit di Desa Karangtengah Prandon, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, pada Selasa (7/7) sekitar pukul 12.00 WIB.
Peristiwa ini menjadi kebakaran kedua yang terjadi di lokasi yang sama dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.
Petugas pemadam kebakaran menduga kobaran api dipicu oleh tumpukan limbah bambu yang mengering dan terpapar cuaca panas.
Petugas Damkar dan Penyelamatan Satpol PP Ngawi, Herry Kuncoro Jati, mengatakan insiden kali ini bukanlah kejadian pertama.
Berdasarkan catatan petugas, kebakaran serupa juga pernah terjadi sebelumnya dengan dugaan penyebab yang hampir sama.
"Kebakaran ini bukan pertama kali terjadi di sini," kata Herry Kuncoro Jati.
Menurutnya, tumpukan limbah produksi yang mengering menjadi faktor utama yang diduga memicu kebakaran.
"Dua kali terbakar dalam waktu kurang dari sebulan. Penyebabnya sama, dipicu tumpukan limbah produksi yang kering dan terbakar akibat cuaca panas," ujar Herry.
Herry menjelaskan titik awal kebakaran berada di tumpukan limbah serabut bambu setinggi sekitar lima meter yang berada di luar bangunan pabrik.
Material yang kering diduga mengalami peningkatan suhu akibat paparan sinar matahari sehingga akhirnya memunculkan api.
"Berdasarkan keterangan pegawai di lapangan, api berasal dari hasil limbah produksi yang kering dan terkena panas matahari yang memicu timbulnya api," katanya.
Api sempat merembet ke bagian dalam pabrik sehingga proses pemadaman berlangsung cukup lama.
Petugas menghadapi sejumlah kendala saat menjangkau titik api karena lokasinya berada di bagian belakang area pabrik.
"Lokasinya agak sulit, kami menjebol tembok pembatas agar bisa mengakses titik api dari belakang," ungkap Herry.
Selain akses yang sulit, karakteristik limbah serabut bambu juga menyulitkan proses pemadaman.
Bara api masih tersimpan di bagian dalam tumpukan limbah sehingga petugas harus membongkar material secara manual agar proses pembasahan lebih maksimal.
Petugas juga menghadapi kendala teknis berupa panjang selang yang terbatas serta adanya kebocoran pada peralatan.
"Pemadaman dan pembasahan menghabiskan enam tangki air lebih," pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto