Jawa Pos Radar Ngawi – Kesulitan yang dialami peternak unggas di Kabupaten Ngawi semakin bertambah.
Setelah harga telur di tingkat peternak merosot, kini harga ayam pedaging juga ikut anjlok.
Kondisi itu diperparah dengan melonjaknya biaya pakan dan vaksin sehingga menggerus keuntungan peternak.
Di sentra peternakan ayam pedaging Desa Gelung, Kecamatan Paron, harga ayam hidup di tingkat peternak turun dari sekitar Rp21 ribu menjadi Rp15 ribu per kilogram.
Salah seorang peternak ayam pedaging, Sajad, mengatakan penurunan harga terjadi ketika biaya produksi justru meningkat.
Harga pakan kini mencapai Rp465 ribu per 50 kilogram, naik dari sebelumnya Rp408 ribu.
"Harga pakan sekarang Rp465 ribu dari Rp408 ribu per 50 kilogram," ujarnya, kemarin (12/7).
Menurutnya, beban peternak tidak hanya berasal dari kenaikan harga pakan.
Harga vaksin unggas juga meningkat hingga tiga kali lipat dibanding sebelumnya.
"Harga vaksin tiga kali lipat dari biasanya," katanya.
Sajad mengaku kondisi tersebut membuat usaha peternakan semakin sulit dipertahankan.
"Kalau dipaksakan, kami pasti gulung tikar," ucapnya.
Kondisi serupa dialami peternak ayam petelur di wilayah yang sama.
Mereka mengaku terus merugi karena harga pakan naik, sementara harga telur di tingkat peternak terus melemah.
Danang, salah seorang peternak ayam petelur, mengatakan harga telur kini hanya sekitar Rp20 ribu per kilogram, turun dari sebelumnya sekitar Rp23 ribu per kilogram.
"Sangat menyedihkan. Harga pakan dan harga jual telur tidak seimbang sama sekali. Karena kami terus-terusan merugi, tidak ada pilihan lain selain menutup usaha ini," ungkapnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto