Jawa Pos Radar Madiun - SMKN 1 Paron memanfaatkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sebagai momentum penguatan karakter dan penanaman nilai-nilai bela negara bagi peserta didik.
Sebanyak 576 siswa, baik peserta didik baru maupun siswa lama, mengikuti pembinaan yang digelar hasil kolaborasi sekolah, Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur, dan Gerakan Bela Negara Gita Bahari Nusantara (GBN).
Kepala SMKN 1 Paron Joko Hartanto mengatakan, penguatan karakter menjadi bagian penting dalam menyiapkan lulusan sekolah kejuruan yang siap bekerja, berwirausaha, maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
"SMK didesain untuk mencetak lulusan yang siap kerja, berwirausaha, atau melanjutkan studi. Karena itu, mereka membutuhkan mentalitas yang tangguh," ujarnya.
Menurut Joko, integrasi materi bela negara dalam MPLS bukan sekadar kegiatan seremonial atau latihan baris-berbaris.
Program tersebut merupakan investasi karakter agar siswa memiliki kompetensi kejuruan sekaligus jiwa nasionalisme yang kuat.
"Ini adalah langkah awal investasi karakter untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya kompeten secara keahlian kompetensi kejuruan, tetapi juga memiliki nasionalisme yang kuat dan berkarakter unggul," katanya.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan materi dari berbagai narasumber, antara lain Ketua Umum GBN Mila Tarsono, perwakilan Kementerian Pertahanan RI, Kodim 0805 Ngawi, serta para guru besar dari Universitas Brawijaya Malang dan UPN Veteran Jakarta.
Joko menjelaskan, dunia usaha dan dunia industri (DUDI) saat ini membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis (hard skills), tetapi juga disiplin, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama.
"Nilai-nilai bela negara seperti disiplin, kepatuhan terhadap aturan, dan tanggung jawab diharapkan menjadi fondasi awal untuk membentuk etos kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri," jelasnya.
Selain mendukung kesiapan memasuki dunia kerja, pembinaan tersebut juga selaras dengan implementasi Kurikulum Merdeka melalui penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Menurutnya, nilai keimanan, gotong royong, kebinekaan global, kemandirian, bernalar kritis, dan kreativitas menjadi bekal penting agar siswa tidak mudah terpengaruh pergaulan negatif.
"Ini adalah modal utama agar mereka tidak mudah terbawa arus pergaulan negatif yang kerap mengincar usia remaja," ungkapnya.
Baca Juga: Hasil Japan Open 2026: Bekuk Ranking 2 Dunia, Putri KW ke Semifinal
Ia menambahkan, siswa SMKN 1 Paron berasal dari latar belakang yang beragam.
Melalui pembinaan bela negara, mereka didorong memiliki rasa cinta tanah air, kebersamaan, serta solidaritas antarsesama siswa sehingga tercipta lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas perundungan.
Program tersebut juga diproyeksikan menjadi bekal saat siswa menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) atau Praktik Kerja Industri (Prakerin).
Penguatan karakter dinilai penting agar siswa mampu beradaptasi, menjaga integritas, sekaligus membawa nama baik sekolah saat berada di dunia kerja.
"Bagi siswa SMK, bela negara tidak selalu berarti angkat senjata, melainkan bela negara melalui profesi dan keahlian," tegas Joko.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Madiun Lena, Ketua Umum GBN Mila Tarsono, Kasdim 0805 Ngawi Kolonel Arh Edi Nugraha, Widyaiswara Pusat Kompetensi Bela Negara BPSDM Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Ahmad Nasir.
Selain itu, Fasilitator Bela Negara BPSDM Pertahanan RI Anton Budi, Guru Besar Manajemen Pertahanan Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya Moeljadi, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Jakarta Erna Hernawati, serta Guru Besar Bidang Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Jakarta Prasetyo Hadi. (*)
Editor : Mizan Ahsani