Kajari Ngawi Ungkap Alasan Gemar Koleksi Keris, Dapur Beethoven Jadi Favorit

Asep Syaeful • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 19:40 WIB
LESTARIKAN BUDAYA: Kepala Kejaksaan Negeri Ngawi B Hermanto menunjukkan salah satu koleksi keris miliknya.
LESTARIKAN BUDAYA: Kepala Kejaksaan Negeri Ngawi B Hermanto menunjukkan salah satu koleksi keris miliknya.

Jawa Pos Radar Madiun – Di balik kesibukannya sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Ngawi, B Hermanto memiliki hobi yang sarat nilai budaya.

Ia merupakan kolektor sekaligus pecinta keris yang aktif mengampanyekan pelestarian warisan budaya Nusantara.

Bagi Hermanto, keris bukan sekadar senjata tradisional. Setiap bilah keris menyimpan nilai seni, filosofi, serta doa yang diwariskan para empu kepada pemiliknya.

Ketertarikannya terhadap keris bermula ketika menempuh pendidikan magister hukum di Universitas Airlangga, Surabaya, pada 2008–2009.

Saat itu ia tinggal di rumah kos milik seorang kolektor keris yang rutin merawat koleksinya.

"Kala itu, tinggal di rumah kos milik seorang kolektor keris," kenangnya.

Rasa penasaran membuat Hermanto mulai mempelajari sejarah, jenis dapur, hingga filosofi yang terkandung dalam setiap keris.

Dari situlah pandangannya terhadap benda pusaka tersebut berubah.

"Saya mulai sadar, keris itu bukan klenik. Keris adalah budaya adiluhung yang penuh makna dan doa," ungkapnya.

Menurut Hermanto, anggapan yang mengaitkan keris dengan praktik mistis merupakan pemahaman yang keliru.

Ia menjelaskan, setiap unsur dalam keris, mulai pamor, dapur, hingga warangkanya, merupakan simbol harapan dan doa kepada Tuhan.

Salah satu koleksi yang sering ia tunjukkan adalah keris berpamor Udan Mas yang dipajang di ruang kerjanya.

Pamor tersebut melambangkan doa agar pemilik memperoleh keberkahan dan rezeki.

"Energi doa inilah yang ditanamkan dalam sebilah besi, bukan kekuatan klenik," tegasnya.

Hermanto juga memaknai proses pembuatan keris sebagai cerminan perjalanan hidup manusia.

Besi yang ditempa berulang kali hingga menjadi karya bernilai tinggi, menurutnya, menggambarkan proses seseorang menghadapi berbagai ujian kehidupan.

"Setiap hari kita ditempa dengan berbagai permasalahan hidup. Jika lulus dari ujian itu, seseorang akan menjadi pribadi baru yang tangguh dan berharga. Keris adalah tetenger atau pengingat bagi saya untuk selalu introspeksi diri," paparnya.

Dalam mengoleksi keris, Hermanto lebih menaruh perhatian pada karya-karya empu masa kini yang memiliki nilai artistik dan filosofi kuat.

Ia ingin mendukung regenerasi para pembuat keris agar tradisi tersebut terus berkembang.

Salah satu koleksi favoritnya adalah keris dapur Beethoven karya empu Toni Yunus.

Keris itu terinspirasi dari komposer dunia Ludwig van Beethoven yang tetap mampu menghasilkan karya besar di tengah keterbatasan fisiknya.

"Simbol keharmonisan dalam motif pamor dan aransemen suara alam. Tuahnya adalah kebahagiaan, keselarasan, rezeki, dan menolak kejahatan," jelasnya.

Hermanto juga mengapresiasi penyelenggaraan pameran Tosan Aji di Kabupaten Ngawi yang dinilainya menghadirkan konsep berbeda.

Pameran tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat dengan menampilkan 255 bilah keris milik pejabat desa, kecamatan, organisasi perangkat daerah (OPD), hingga Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Menurutnya, konsep tersebut berhasil mendekatkan keris kepada masyarakat sekaligus menghapus stigma negatif terhadap warisan budaya tersebut.

"Jangan sampai masyarakat antipati terhadap budayanya sendiri karena salah kaprah menganggapnya klenik. Keris adalah karya seni, doa, dan identitas bangsa yang sangat mulia," pungkasnya. (sae/den)

Editor : Hengky Ristanto
Keris Nusantara kajari ngawi budaya keris