Perajin Beduk Ngawi Bertahan Meski Masjid Kini Lebih Memilih Speaker Digital

Asep Syaeful • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 14:47 WIB
LESTARIKAN TRADISI: Sutrisno, perajin beduk dan kentongan asal Desa Keras Wetan, Geneng.
LESTARIKAN TRADISI: Sutrisno, perajin beduk dan kentongan asal Desa Keras Wetan, Geneng.

Jawa Pos Radar Madiun – Modernisasi mengubah banyak tradisi, termasuk cara masjid mengumandangkan penanda waktu salat.

Di tengah maraknya penggunaan mikrofon dan pengeras suara digital, Sutrisno, perajin beduk dan kentongan asal Desa Keras Wetan, Kecamatan Geneng, memilih tetap bertahan melestarikan kerajinan warisan leluhur meski pesanan terus menurun.

Pria yang akrab disapa Tris itu mengaku tetap memproduksi beduk dan kentongan karena kecintaan terhadap kerajinan tradisional sekaligus keinginan menjaga warisan budaya yang telah dikenal sejak masa Wali Songo.

"Karena ini hobi dan niat melestarikan warisan Wali Songo, saya bertahan dan tetap menjualnya dengan harga wajar," ujarnya, Minggu (26/7).

Menurut Tris, dalam lima tahun terakhir permintaan beduk terus merosot.

Banyak masjid kini lebih mengandalkan mikrofon dan speaker sebagai penanda waktu salat, sehingga fungsi beduk perlahan bergeser menjadi pelengkap atau hiasan.

Akibatnya, jumlah pesanan turun lebih dari separuh dibanding masa-masa sebelumnya.

Jika dulu mampu menerima lebih dari sepuluh pesanan dalam setahun, kini ia hanya mengerjakan sekitar lima beduk setiap tahun.

"Sekarang, setahun cuma dapat lima garapan," ungkapnya.

Pria berusia 50 tahun itu mulai menekuni pembuatan beduk sejak berusia sekitar 30 tahun.

Seluruh produknya dibuat menggunakan kayu pilihan, seperti jati, mahoni, atau nangka, yang dipadukan dengan kulit sapi maupun kambing berkualitas.

Pada masa kejayaannya sekitar tahun 2012, hasil karyanya banyak diminati pembeli dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Solo, Boyolali, hingga Surabaya.

Salah satu beduk berdiameter 1,5 meter yang diproduksinya dibanderol sekitar Rp 35 juta.

Proses pembuatannya membutuhkan waktu hingga 20 hari dengan melibatkan tiga orang pekerja.

"Musim panen rezeki biasanya menjelang Idul Fitri dan Idul Adha, atau saat pesanan datang dari kelompok reog dan karawitan," terangnya.

Meski permintaan terus menurun, Tris memilih tidak meninggalkan profesi yang telah menjadi bagian dari hidupnya.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia menjalankan usaha lain, seperti berjualan nasi goreng pada malam hari dan merintis usaha katering.

"Walaupun harus nyambi, usaha bedug dan kentongan tetap saya jalankan," pungkasnya. (magang:nurulnikmatulromadhona/sae/den)

Editor : Hengky Ristanto
perajin beduk kerajinan tradisional desa keras wetan ngawi