Jawa Pos Radar Madiun - Siswa-siswi SMA Negeri 1 (Smasa) Ngawi kembali mengukir deretan prestasi membanggakan.
Sekolah yang mengusung jargon Qualified Dream School tersebut membuktikan kualitasnya lewat capaian luar biasa dalam kompetisi tingkat kabupaten, regional, hingga nasional.
"Terbaru, anak-anak menjuarai beberapa kategori di lomba Ajang Kompetisi Inovasi dan Riset (Akar) 2026 dan sukses menembus 10 besar ajang Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (Fiksi) yang digelar Puspresnas Kemendikdasmen," ujar Guru Pendamping SMAN 1 Ngawi Tety Martha Christiana.
Tety mengungkapkan, rentetan prestasi ini bukan sekadar pembuktian kualitas akademis maupun non-akademis, melainkan pemantik semangat bagi seluruh siswa untuk memacu kreativitas.
Hal ini sekaligus membuktikan lulusan SMA memiliki keunggulan kompetitif dan daya saing bisnis yang tinggi. "Tak kalah dengan SMK yang punya jurusan spesifik," tambahnya.
Pada ajang Akar 2026, Smasa berhasil menyapu bersih gelar di semua kategori yang diikuti.
Tim Sigma menyabet Juara 1 Kategori Inovasi Agribisnis dan Energi lewat produk Circlo, yakni pemanfaatan limbah untuk produksi melon premium.
Juara 1 Kategori Inovasi Sosial Budaya diraih Tim Denova lewat produk Safora yang mengolah limbah jeans menjadi tas fashion.
Baca Juga: DPRD dan Pemkot Madiun Sepakati KUA-PPAS 2027, Pengelolaan Sampah Jadi Prioritas Utama
"Sementara Tim Bifala menyabet Juara 2 Kategori Inovasi Pendidikan melalui Lawika, media edukasi hybrid board game ular tangga untuk pelestarian aksara Jawa dan budaya lokal," terang Tety.
Istimewanya, karya inovasi fashion Tim Denova melenggang sebagai nominasi 10 besar Fiksi 2026 tingkat nasional untuk kategori pengembangan usaha. "Finalnya akan berlangsung di Bali pada 12–17 Oktober mendatang," jelasnya.
Secara terpisah, para inovator muda Smasa membeberkan keunggulan karya mereka. Ketua Tim Bifala Bana Affan Ainurrofik Lil Firdaus bersama Naufal Aditya Romansya menjelaskan, Lawika (Ular Tangga Ngawi Caraka) dirancang dari limbah kertas, akrilik, dan kayu.
"Berawal dari keprihatinan atas rendahnya pemahaman aksara Jawa, kami terdorong menciptakan media pembelajaran yang atraktif, transformatif, dan menyenangkan bagi pelajar," tutur Affan.
Di sektor agribisnis, Ketua Tim Sigma Ica Tasya Budiarso didampingi Kirani Aisha Magani membeberkan Circlo sebagai inovasi Circular Economy. Mereka mengubah limbah galon sekali pakai menjadi pot ergonomis serta sabut kelapa menjadi media tanam cocopeat.
"Berpadu dengan sistem irigasi tetes dan varietas unggul Sweet Aprilia serta Dua Luoi Lai, Circlo menciptakan ekosistem pertanian tertutup yang efisien lahan, rendah emisi, dan menghasilkan melon premium ber-Brix tinggi," papar Ica.
Sementara itu, Ketua Tim Denova Sifa Anindhya Putri bersama Safa Tias Wahrianta menyulap limbah denim menjadi tas etnik bernilai seni tinggi lewat teknik patchwork, sulam, dan bordir.
"Setiap bahan kami cuci dan sterilisasi demi kenyamanan consumer. Desainnya dirancang tematik dengan memadukan unsur pariwisata serta kekayaan budaya Ngawi untuk menyasar pasar gaya hidup modern," tuntas Sifa. (rio/naz/*)