Jawa Pos Radar Madiun – Tradisi bersih desa atau Nyadran masih terus dijaga masyarakat Desa Ngrendeng, Kecamatan Sine.
Jumat Legi bulan Muharam lalu, warga bersama pemerintah desa menggelar doa bersama di Punden Ki Ageng Pesuruhan, Dusun Ngrendeng, sebagai wujud syukur atas hasil panen, keselamatan, dan ketenteraman.
Kepala Desa Ngrendeng Joko Susanto mengatakan, Nyadran bukan sekadar tradisi turun-temurun. Kegiatan itu juga menjadi sarana mempererat kebersamaan seluruh elemen masyarakat.
''Sekaligus menjadi upaya membina kebersamaan dan kegotongroyongan serta menyatukan seluruh elemen masyarakat, baik pemerintah desa, tokoh agama, tokoh adat, maupun pemuda,'' ujarnya.
Dalam prosesi tersebut, warga membawa berkat atau makanan untuk didoakan bersama.
Setelah doa dipimpin tokoh adat, makanan kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol kebersamaan dan budaya berbagi.
Baca Juga: Oleh-Oleh dari Luar Negeri Bebas Bea Masuk hingga USD 500, Simak Ketentuannya
Menurut Joko, tradisi tersebut juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat. Kebutuhan bahan makanan untuk kenduri mendorong aktivitas belanja di pasar maupun warung desa sehingga ikut menggerakkan perekonomian lokal.
''Secara ekonomis juga mendorong produktivitas warga kami,'' katanya.
Di sisi lain, Joko mengakui arus modernisasi menjadi tantangan tersendiri bagi kelestarian tradisi Nyadran.
Karena itu, keterlibatan generasi muda dinilai menjadi kunci agar budaya lokal tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial.
Dia berharap pemuda dapat berperan lebih aktif, termasuk memanfaatkan media sosial untuk mengenalkan tradisi Nyadran kepada masyarakat luas.
''Mereka bisa terlibat dalam promosi maupun publikasi tradisi ini melalui jejaring sosial,'' pungkasnya. (rio/*/naz)
Editor : Mizan Ahsani