Jawa Pos Radar Madiun – Kemarau mulai memicu krisis air bersih di Desa Kiyonten, Kecamatan Kasreman.
Sedikitnya 10 kepala keluarga (KK) terdampak dan terpaksa memanfaatkan air dari belik, lubang kecil di dasar sungai yang mengering, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Buat belik, lubang di dasar sungai yang mengering," kata Sutini, warga setempat, Sabtu (1/8).
Krisis air bersih telah berlangsung sekitar satu bulan.
Sumur gali maupun sumur bor milik warga tidak lagi mengeluarkan air sehingga mereka bergantung pada sumber air darurat tersebut.
Meski keruh dan bercampur lumpur, air belik tetap digunakan untuk memasak dan mandi setelah terlebih dahulu disaring.
"Untuk memasak dan mandi, sampai rumah air disaring dulu karena kotor," ujar Sutini.
Mendapatkan air pun tidak mudah. Warga harus menggali dasar sungai hingga beberapa puluh sentimeter, lalu menunggu air merembes dan menggenang sebelum bisa diambil.
Sebagian warga lainnya memilih berjalan menembus hutan untuk mencari sumber air yang masih mengalir.
Warga terdampak, Parlan, mengatakan minimnya sumber air alternatif membuat kondisi semakin sulit.
Hingga kini, bantuan air bersih dari pemerintah desa maupun instansi terkait juga belum diterima.
"Tiap kemarau, Desa Kiyonten langganan krisis air bersih," katanya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto