Kemarau Parah di Ngawi, Warga Kiyonten Terpaksa Saring Air Belik demi Bertahan Hidup

Asep Syaeful • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 13:30 WIB
BERTAHAN SAAT KEMARAU: Warga Desa Kiyonten mengambil air dari belik di dasar sungai yang mengering untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat krisis air bersih.
BERTAHAN SAAT KEMARAU: Warga Desa Kiyonten mengambil air dari belik di dasar sungai yang mengering untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat krisis air bersih.

Jawa Pos Radar Madiun – Kemarau mulai memicu krisis air bersih di Desa Kiyonten, Kecamatan Kasreman.

Sedikitnya 10 kepala keluarga (KK) terdampak dan terpaksa memanfaatkan air dari belik, lubang kecil di dasar sungai yang mengering, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Buat belik, lubang di dasar sungai yang mengering," kata Sutini, warga setempat, Sabtu (1/8).

Krisis air bersih telah berlangsung sekitar satu bulan.

Sumur gali maupun sumur bor milik warga tidak lagi mengeluarkan air sehingga mereka bergantung pada sumber air darurat tersebut.

Meski keruh dan bercampur lumpur, air belik tetap digunakan untuk memasak dan mandi setelah terlebih dahulu disaring.

"Untuk memasak dan mandi, sampai rumah air disaring dulu karena kotor," ujar Sutini.

Mendapatkan air pun tidak mudah. Warga harus menggali dasar sungai hingga beberapa puluh sentimeter, lalu menunggu air merembes dan menggenang sebelum bisa diambil.

Sebagian warga lainnya memilih berjalan menembus hutan untuk mencari sumber air yang masih mengalir.

Warga terdampak, Parlan, mengatakan minimnya sumber air alternatif membuat kondisi semakin sulit.

Hingga kini, bantuan air bersih dari pemerintah desa maupun instansi terkait juga belum diterima.

"Tiap kemarau, Desa Kiyonten langganan krisis air bersih," katanya. (sae/den)

Editor : Hengky Ristanto
Desa Kiyonten kekeringan ngawi krisis air bersih kasreman