Jawa Pos Radar Madiun – Nasib hidup seseorang memang tak pernah bisa ditebak. Hal itu dialami Karno Adi Setia Darmo.
Dua puluh enam tahun silam, warga Desa Jambangan, Kecamatan Paron, tersebut harus mendekam di penjara karena menebang pohon milik Perhutani.
Kini, di usia 62 tahun, justru ia mengabdikan hidupnya untuk menghijaukan lingkungan.
Karno masih mengingat jelas peristiwa yang mengubah jalan hidupnya pada 2000.
Saat itu, selepas menebang pohon pisang di kawasan Hutan Ketonggo, hujan deras mengguyur.
Suasana hutan yang sepi membuatnya nekat menebang lima batang pohon milik Perhutani.
"Waktu itu saya menebang lima pohon milik Perhutani. Akhirnya ditangkap, diserahkan ke polisi, lalu ditahan," kenangnya, Minggu (2/8).
Perbuatannya membuat Karno menjalani hukuman selama empat bulan 15 hari di Lapas Ngawi.
Namun, masa tahanan tersebut justru menjadi titik balik kehidupannya.
Selama berada di dalam lapas, dia mengikuti pembinaan bercocok tanam yang perlahan mengubah cara pandangnya terhadap alam.
"Pengalaman di lapas tidak akan pernah saya lupakan. Dari situ saya belajar banyak dan merasa benar-benar jera," ujarnya.
Setelah bebas, Karno sempat kebingungan menentukan arah hidup.
Hingga suatu ketika ia teringat pesan seorang sesepuh dari Yogyakarta yang pernah memintanya merawat taman penuh bunga sebagai simbol menjaga kehidupan.
Pesan itu menjadi pegangan hidupnya. Perlahan dia merintis usaha tanaman hias dan pembibitan di halaman rumah.
Meski sempat dicibir karena memanfaatkan tepi jalan untuk tanaman, Karno memilih tetap bertahan.
"Dulu banyak yang bilang saya membabat jalan seenaknya. Kata-kata itu justru menjadi pengingat agar saya tidak mengulangi kesalahan," katanya.
Selama lebih dari dua dekade, Karno mengembangkan usaha pembibitan melalui Pondok Bunga Wahyu Sri Sedono.
Bibit yang dihasilkannya kini banyak dimanfaatkan untuk program penghijauan di berbagai daerah.
Perjalanan itu mencapai puncaknya pada 2024 ketika dia mendirikan Taman Soko Rini, sekitar 100 meter dari rumahnya.
Taman tersebut menjadi ruang hijau sekaligus simbol perubahan hidup dari seorang pelanggar hukum menjadi pelestari lingkungan.
Bagi Karno, menanam pohon bukan lagi sekadar mata pencaharian, melainkan cara menebus kesalahan masa lalu dan wujud cintanya kepada tanah air.
"Indonesia adalah tanah air kita. Sudah menjadi kewajiban setiap warga untuk merawatnya. Saya ingin memberi contoh lewat tindakan, meski dimulai dari hal kecil," pungkasnya. (Nurul Nikmatul Romadhona/her)
Editor : Hengky Ristanto