Kemarau Ancam Sawah, DKPP Ngawi Minta Petani Beralih dari Padi ke Tanaman Palawija

Asep Syaeful • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 10:50 WIB
MUSIM KEMARAU: DKPP Ngawi mengimbau petani di wilayah rawan kekeringan beralih ke tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air.
MUSIM KEMARAU: DKPP Ngawi mengimbau petani di wilayah rawan kekeringan beralih ke tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air.

Jawa Pos Radar Madiun – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ngawi mengimbau petani di daerah rawan kekeringan tidak memaksakan menanam padi pada musim tanam kedua.

Sebagai gantinya, petani disarankan beralih ke komoditas yang lebih hemat air, seperti jagung, ketela pohon, maupun tanaman palawija lainnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DKPP Ngawi M. Hasan Zunairi mengatakan, pihaknya telah memetakan wilayah yang berpotensi mengalami krisis air.

Daerah rawan umumnya berada di kawasan perbatasan lereng Gunung Lawu dan dataran bawah, seperti Kecamatan Jogorogo dan Ngrambe.

"Musim tanam kedua ini, kami sudah memetakan wilayah-wilayah yang pasokan airnya tidak mencukupi," ujarnya, Senin (3/8).

Menurut Hasan, petani masih bisa menanam padi apabila memiliki sumber air yang memadai, seperti sumur dalam atau sumur sibel.

Namun, jika pasokan air terbatas, komoditas alternatif menjadi pilihan yang lebih aman.

"Sangat disarankan beralih ke tanaman jagung, ketela pohon, atau komoditas palawija lainnya yang kebutuhan airnya jauh lebih sedikit dibanding padi," katanya.

Untuk meminimalkan risiko kerugian akibat kekeringan, DKPP juga memprioritaskan lahan rawan mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Bantuan premi AUTP tahun ini didukung pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan target cakupan 500 hingga 700 hektare.

"Sawah yang berada di daerah potensi kekeringan kita daftarkan ke AUTP, prioritas utamanya tentu lahan yang paling rawan," tegasnya.

Hasan mengakui luas tanam padi musim ini berpotensi menurun.

Meski demikian, kualitas hasil panen di wilayah yang memiliki jaringan irigasi memadai diperkirakan tetap baik.

"Terutama di kawasan bawah yang irigasinya terjaga, potensinya justru meningkat bagus," pungkasnya. (sae/den)

Editor : Hengky Ristanto
kemarau DKPP Ngawi petani padi AUTP