Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman kebakaran di Kabupaten Ngawi patut diwaspadai.
Sepanjang Januari hingga Juli 2026, tercatat 66 kejadian dengan total kerugian material diperkirakan mencapai Rp 1,1 miliar.
Kebakaran lahan mendominasi dengan 22 kejadian. Disusul kebakaran rumah dan dapur sebanyak 16 kasus. Sisanya menyasar kandang ternak, kendaraan, pabrik, hingga fasilitas lainnya.
‘’Insiden terbanyak didominasi kebakaran lahan, diikuti permukiman warga serta fasilitas lainnya,’’ kata Kabid Kebakaran dan Penyelamatan Satpol PP Ngawi Ismail Munaroh Roy Adhi, Jumat (7/8).
Data Satpol PP Ngawi mencatat empat kasus kebakaran kandang ayam dan dua insiden yang melibatkan kompor gas. Sejumlah kejadian lainnya terjadi pada pabrik maupun kendaraan.
Ismail mengatakan, faktor manusia masih menjadi salah satu pemicu kebakaran. Mulai kelalaian, korsleting listrik, hingga kebiasaan membakar sampah tanpa pengawasan.
Risiko tersebut semakin besar di tengah kondisi cuaca panas dan lingkungan yang mengering.
Api dapat lebih mudah membesar dan merambat apabila tidak segera dikendalikan.
‘’Kondisi ini makin diperparah cuaca panas terik belakangan ini,’’ ujarnya.
Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama sebelum meninggalkan rumah.
Instalasi maupun peralatan listrik perlu dipastikan dalam kondisi aman untuk meminimalkan risiko korsleting.
Warga yang membakar sampah juga diminta tidak meninggalkan api begitu saja.
Pembakaran harus terus diawasi hingga api benar-benar padam agar tidak merembet ke lahan maupun bangunan di sekitarnya.
‘’Saat ini cuaca panasnya ekstrem, sehingga perlu ekstra hati-hati,’’ terangnya.
Di tengah tingginya frekuensi kebakaran, kemampuan penanganan petugas masih dihadapkan pada keterbatasan sarana dan prasarana.
Sejumlah peralatan disebut membutuhkan perawatan maupun penggantian.
Salah satunya selang air yang kondisinya sudah tidak layak pakai.
Keterbatasan personel dan armada juga menjadi tantangan lantaran luasnya wilayah Kabupaten Ngawi yang harus dijangkau.
Saat ini, hanya tiga unit truk tangki dan satu kendaraan penyelamatan yang disebut layak beroperasi.
Kondisi tersebut membuat penambahan fasilitas pendukung dinilai diperlukan untuk memperkuat respons terhadap kejadian kebakaran.
‘’Kami berharap ada tambahan support untuk kebutuhan penanganan kebakaran di Ngawi,’’ pungkas Ismail. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto