Jawa Pos Radar Madiun – Penanganan kekeringan di Kabupaten Ngawi mulai diarahkan pada solusi jangka panjang.
Pemerintah daerah mengusulkan pembangunan sumur bor kepada BNPB untuk memperkuat pasokan air bersih di wilayah terdampak.
Usulan tersebut diajukan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Ngawi menyusul kemarau panjang yang menyebabkan sejumlah wilayah mengalami keterbatasan sumber air.
Kabid Permukiman DPRKP Ngawi Pipit Dwi Herlina mengatakan, keterbatasan kemampuan APBD menjadi salah satu alasan pengajuan bantuan ke pemerintah pusat.
''Terkait kondisi saat ini yang menghadapi musim kering cukup lama, Dinas Perkim mengusulkan kegiatan sumur bor. Karena kemampuan APBD kita terbatas, kita mencoba mengusulkan ke tingkat pusat, yaitu ke BNPB,'' ujarnya, Senin (10/8).
Sebanyak 11 desa diusulkan menerima bantuan pembangunan sumur bor.
Wilayah tersebut meliputi Desa Widodaren, Sidomakmur, Kerek, Kenongorejo, Beringin, Gendingan, Bangunrejo Kidul, Mantingan, Jatimulyo, Cantel, dan Karanganyar.
Desa-desa tersebut sebelumnya telah mengajukan permintaan penanganan kekeringan dan mulai mendapatkan bantuan distribusi air bersih dari pemerintah.
Menurut Pipit, pembangunan sumur bor nantinya direncanakan menggunakan pola kerja sama dengan TNI.
Pemerintah pusat menyediakan anggaran, sementara pelaksanaan pembangunan dilakukan oleh personel TNI di lapangan.
''Anggaran dari pusat akan diturunkan melalui TNI, kemudian TNI yang melaksanakan kegiatannya di lapangan. Pemerintah daerah menerima hasil pengerjaan jadi,'' jelasnya.
Saat ini Ngawi telah memiliki sekitar 217 unit Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).
Namun, kondisi kemarau panjang membuat sejumlah sumber air mengalami penurunan debit.
Karena itu, DPRKP terus melakukan pemetaan dan pencarian sumber air baru untuk memperkuat sistem yang sudah berjalan.
Salah satunya di Desa Kiyonten yang mengalami penurunan debit air.
Meski debit menurun, wilayah tersebut masih memiliki potensi sumber air alternatif yang dapat dikembangkan untuk mendukung layanan SPAM.
''Kita perlu menggali potensi sumber air baru. Contohnya di Desa Kiyonten, debitnya berkurang tetapi kita cari potensi sumber lain yang lumayan besar untuk disuplai ke sistem SPAM yang sudah ada,'' paparnya.
DPRKP memperkirakan bantuan pembangunan sumur bor dari BNPB dapat terealisasi dalam waktu dekat.
Jika usulan disetujui, program tersebut diproyeksikan turun sekitar September atau Oktober mendatang.
''Kemungkinan nanti sekitar bulan September atau Oktober anggaran dan programnya sudah turun,'' pungkas Pipit. (sae/her)
Editor : Hengky Ristanto