Jawa Pos Radar Madiun - Masa remaja menjadi periode penting dalam membentuk kualitas generasi mendatang. Tak cukup sehat secara fisik, mereka juga perlu dibekali kemampuan menjaga kesehatan mental hingga menghadapi berbagai persoalan sosial.
Hal tersebut menjadi perhatian Pemdes Mojomanis, Kecamatan Kwadungan, Ngawi, dengan mengoptimalkan kegiatan Posyandu Remaja.
Program yang digelar beberapa waktu lalu di kantor desa itu diikuti puluhan remaja setempat.
Kepala Desa Mojomanis Sunardi mengatakan, Posyandu Remaja memiliki peran strategis dalam mempersiapkan generasi muda yang sehat secara fisik, mental, dan sosial.
"Sekaligus membekali remaja desa dengan keterampilan hidup sehat (life skills) yang menjadi fondasi kuat saat mereka dewasa dan berkeluarga kelak," ungkap Sunardi.
Berbagai layanan diberikan kepada peserta. Salah satunya deteksi dini sekaligus pemantauan kondisi kesehatan fisik.
Pemeriksaan meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, lingkar lengan atas (LILA), tekanan darah, hingga skrining kesehatan lainnya.
Remaja putri juga mendapatkan edukasi serta suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD). Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendeteksi lebih awal berbagai persoalan gizi.
"Memberikan edukasi dan suplementasi Tablet Tambah Darah bagi remaja putri dan membantu mendeteksi masalah gizi kurang, stunting, maupun obesitas supaya bisa disikapi lebih cepat," terangnya.
Jadi Ruang Aman Remaja untuk Berdiskusi
Tak hanya pemeriksaan fisik, petugas kesehatan turut memberikan edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas.
Materinya diarahkan agar remaja memperoleh informasi yang tepat mengenai perubahan fisik maupun hormonal selama masa pubertas.
"Harapannya juga mencegah perilaku berisiko seperti kehamilan di luar nikah, pernikahan dini, dan penularan penyakit menular seksual," tambah Sunardi.
Aspek kesehatan mental turut menjadi perhatian. Posyandu Remaja diharapkan menjadi ruang aman bagi generasi muda untuk membicarakan persoalan yang mereka hadapi.
Mulai kecemasan, perundungan atau bullying, hingga tekanan dari lingkungan pertemanan.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena persoalan yang dihadapi remaja tidak selalu dapat terlihat secara kasatmata.
"Kedepannya remaja desa diharapkan bisa menjadi kader kesehatan yang memiliki keahlian kepemimpinan, komunikasi, dan kepedulian sosial," katanya.
Menurut Sunardi, pendekatan melalui teman sebaya juga memiliki potensi besar dalam menyampaikan edukasi kesehatan.
Sebab, remaja terkadang merasa lebih nyaman menceritakan persoalannya kepada teman dibandingkan orang yang lebih tua.
"Bisa jadi saat berbicara dengan orang tua atau guru, mereka sering kali merasa khawatir akan dimarahi, disalahkan, atau dikritik," ujarnya.
Meski demikian, pendampingan tetap diperlukan. Teman sebaya memang dapat memberikan dukungan emosional, tetapi belum tentu mempunyai pengalaman maupun kemampuan untuk memberikan solusi terhadap persoalan yang lebih kompleks.
Karena itu, Posyandu Remaja juga menjadi sarana membekali mereka dengan pengetahuan yang benar sehingga dukungan antarteman tetap mengarah pada hal positif.
"Oleh karena itu, edukasi seperti dalam Posyandu Remaja diperlukan agar arahan yang saling diberikan antar-remaja tetap positif dan aman," pungkas Sunardi. (rio/*/naz)
Editor : Mizan Ahsani