Jawa Pos Radar Madiun – Komisi II DPRD Ngawi meminta penambahan tandon untuk memperkuat distribusi air bersih di wilayah terdampak kekeringan.
Kebutuhan tersebut ditemukan setelah dewan meninjau sejumlah lokasi di Kecamatan Pitu dan Kasreman, Rabu (12/8) lalu.
Peninjauan dilakukan untuk memastikan penanganan darurat sekaligus ketercukupan pasokan air bersih bagi masyarakat.
Komisi II juga mengecek langsung titik-titik yang masih membutuhkan sarana penampungan.
Ketua Komisi II DPRD Ngawi Amin Sunarto turun langsung mengobservasi kondisi di lapangan.
Peninjauan tersebut sekaligus menindaklanjuti hasil rapat koordinasi penanganan dampak kekeringan yang digelar sebelumnya.
Amin mengapresiasi respons cepat dan kolaborasi berbagai pihak dalam mendistribusikan air bersih kepada masyarakat terdampak.
Namun, pihaknya masih menemukan sejumlah hal yang perlu dievaluasi.
Salah satunya keterbatasan tempat penampungan air di sejumlah titik.
DPRD menilai tambahan tandon diperlukan agar pasokan air dapat didistribusikan secara lebih efektif.
"Perlu tambahan tandon penampungan air. Titik-titik lain juga terus kami inventarisasi," ujar Amin, Kamis (13/8).
Menurut dia, ketersediaan tandon menjadi krusial selama masa tanggap kekeringan.
Terutama untuk memastikan distribusi air menjangkau warga secara merata.
"Ini dilakukan agar kebutuhan air bersih warga, terutama untuk konsumsi memasak, mandi, dan mencuci, benar-benar tercukupi selama masa tanggap kekeringan ini," tegasnya.
Selain penanganan darurat, Komisi II DPRD Ngawi mendorong strategi jangka panjang untuk mengurangi dampak kekeringan.
Konservasi lingkungan menjadi salah satu langkah yang dinilai penting.
Penghijauan diperlukan untuk meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air hujan.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat ketersediaan cadangan air ketika musim kemarau.
‘’Penghijauan itu sangat perlu agar air hujan tersimpan optimal di dalam tanah dan tidak langsung hanyut berlalu," jelas Amin. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto